Evakuasi 133 Ton Sampah di Kali Tebu, ECOTON Kenalkan ORBIN untuk Tekan Residu Plastik Rumah Tangga
Klikhijau.com - Sebanyak 133 ton sampah berhasil dievakuasi dari aliran Kali Tebu, Surabaya, hingga Oktober 2026. Tumpukan limbah ini tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari kebiasaan harian rumah tangga yang mengumpulkan sisa makanan menggunakan kantong plastik sekali pakai sebelum membuangnya.
Guna memutus rantai pencemaran tersebut, lembaga konservasi Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) bersama tim MOZAIK meluncurkan inovasi wadah khusus bernama Organic Bin (ORBIN). Langkah ini dirancang untuk mengubah kebiasaan masyarakat di kawasan bantaran Kali Tebu agar tak lagi memproduksi residu plastik baru saat memilah sampah dari dapur.
ORBIN merupakan wadah berkapasitas 4 hingga 5 kilogram yang didesain khusus untuk kebutuhan sisa dapur rumah tangga. Tempat sampah ini dilengkapi penutup rapat guna mencegah timbulnya bau tak sedap serta serangga seperti lalat atau tikus, sekaligus memiliki pegangan yang memudahkan warga membawanya ke titik pengolahan.
"Sering kali orang menggunakan plastik sekali pakai untuk mengumpulkan sampah organik dari dapur. Akibatnya timbul dua jenis limbah: sampah organik itu sendiri dan pembungkus plastiknya yang menjadi residu," ujar Waste Prevention Manager ECOTON, Tonis Afrianto.
Dengan wadah ini, warga cukup membawa sisa makanan langsung dari dapur menuju sumur komposter atau tempat pengolahan tanpa perlu membungkusnya dengan plastik. Hingga Oktober 2026, sebanyak lebih dari 300 unit ORBIN telah dibagikan kepada rumah tangga di sepanjang aliran Kali Tebu dari target keseluruhan 750 unit.
Penerapan sarana ini menjangkau pemukiman di tiga kelurahan yang melintasi Kali Tebu, yakni Simokerto, Kapas Madya Baru, dan Tanah Kali Kedinding.
Inisiatif tersebut disambut baik oleh warga setempat. Fasilitator Kelurahan sekaligus perwakilan Ketua PKK RW 13 Simokerto, Mujiatiningsih atau yang akrab disapa Bu Yuli, mengungkapkan antusiasme warga yang mulai beradaptasi dengan sistem pemilahan baru ini.
"Warga sudah mulai merespons dan mempraktikkan pilah sampah organik dengan wadah ORBIN. Ini tidak hanya sebatas jalannya program, tetapi akan kami lakukan seterusnya karena dampaknya sudah terasa," kata Bu Yuli.
Langkah serupa dijalankan di wilayah Kelurahan Tanah Kali Kedinding. Ketua Bank Sampah Markisa RT 05, Siti Cholifah, menjelaskan bahwa penggunaan ORBIN dipadukan dengan sarana penampungan berbasis bata terawang di lingkungannya.
"Warga yang sudah memilah sampah bisa mengantar ke tempat pengolahan menggunakan ORBIN. Karena wadahnya ditutup rapat dan tidak bocor, mobilitas penyaluran dari dapur ke komposter terdekat jadi jauh lebih mudah," ujar wanita yang akrab disapa Ifa tersebut.
Upaya penanganan limbah dari sumbernya ini menjadi krusial mengingat beban penanganan sampah di Kota Pahlawan tergolong tinggi. Kepala Bidang Kebersihan dan Pemberdayaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Wasis Sutikno, mencatat volume timbulan sampah di Surabaya mencapai 1.800 ton per hari, dengan porsi terbesar didominasi limbah organik.
Pemerintah Kota Surabaya sendiri menargetkan pengurangan volume sampah hingga 40 persen setiap tahunnya. Kehadiran sarana pemilahan yang praktis di tingkat RT dan RW dinilai membantu mempermudah pengolahan sampah organik sekaligus mencegah kebocoran limbah plastik ke aliran sungai.
Inisiatif di kawasan Kali Tebu yang berjalan atas kolaborasi ECOTON, DLH Kota Surabaya, Kemenko Marves, dan UNDP Indonesia ini juga mulai direplikasi ke daerah lain. Skema serupa kini diterapkan di puluhan rumah tangga di Kota Batu melalui program RW Mandiri Sampah.