Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Nama pada Masa Depan

Di Gelas Teh Mana Kita Minum Kelak   segelas teh menunggu di ruang tamu roti maros menanti kau cicipi ada aroma kampung halaman semalam puisi berceceran lalu berkumpul jadi cokelat pada...

Oleh Idris Makkatutu 04 Jul 2021 00:00 3 menit baca

Di Gelas Teh Mana Kita Minum Kelak

  segelas teh menunggu di ruang tamu roti maros menanti kau cicipi ada aroma kampung halaman semalam puisi berceceran lalu berkumpul jadi cokelat pada roti pada rindu yang kian legit saja pepohonan itu, tanda kamu mulai meneduhkan seseorang suka membayangkan dirinya jadi burung-burung hinggap pada dahanmu suara sunyi mulai kian senyap angin penuh aroma sampah terbakar menghampir usapi mata dengan bayang diri liarmu ada segelas teh kemasi tanya kapan dinikmati berdua sambil berteduh di pohon yang mulai teduh di degupan rindu pohon-pohon mulai meranggas cericit burung hilang kunang-kunang ditelan lampu jalan sunyi... kita bertanya-tanya, kapan semua tiba dan berakhir Bulukumba, 4 Mei 2018 [irp] =======

Di Gerimis Kita Menanti

  lelah di matamu dan lirihnya doaku jembatan kecil menuju detak jantung di dada, rindu menggerus hingga ke tulang-tulang. deras menggerimis. ikan kecil terus saja berenang. antara arus dan celah batu. dan kita memancing dengan kesungguhan bau rumah sakit tak membuatmu lupa, ada jembatan kecil tempat menyebrang hingga kampung halaman waktu mulai menagih janji. aku menyulam akar pelangi. kau merenda gerimis, menanti-nanti.. Pinisi Bagi Negeri, 17 Agustus 2018 [irp]
=====

Kamu di Kelak

  kelak adalah kamu jadi dahandahan. naungi jalan setapak menuju kampung halaman tempat burungburung melatih cericit kelak adalah kamu jadi alur cerita pada lagulagu yang dinyanyikan perantau dan orangorang kehilangan kenangannya di sebuah rumah tua kelak adalah kamu kamu adalah kelak adalah kamu kelak kelak adalah kamu dinamai pulang bagi yang pergi mencari esok yang bingung di persimpangan jalan kelak adalah kamu bagi dahaga setelah perjalanan jauh melewati sungai dan jalan setapak menuju rumah Rumah Kekasih, 25 Mei 2018 =======

Nama pada Masa Depan

  bukubuku masih terbakar di halaman rumah, di bawah pohon mangga. asapnya sampai kamar, perihkan mata. gedunggedung diselubunginya. tetangga batukbatuk abu berhamburan di halaman, di bawah pohon mangga itu. semalam hujan tiba. segala akan tumbuh setelah hujan, selain cinta di hatimu. api masih jilati bukubuku di halaman, di bawah pohon mangga itu. matahari tiba pagi ini menagih pepuisi yang semalam lelap dalam hujan. tetes hujan semalam tak padamkan api yang bacai buku-buku di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu, kekasih. pagipagi aku bangun, di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu, segala yang bisa tumbuh akan tumbuh, selain cinta di hatimu. aku telah membakar bukubuku di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu, kekasih, bukan satu, tapi tiga karung. bukubuku itu tak menyimpan kisah kita, pun tak ada namamu. apa pentingnya menyimpan barangbarang yang tak mengingatkan kenangan. bukubuku terbakar di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu. semuanya akan tumbuh setelah semalam hujan turun dan tak padamkan api, selain cinta di hatimu. aku masih menyiram banyak doa, di atas abu bekas bukubuku yang telah terbakar di halaman rumah, di bawah pohon mangga itu. namamu tumbuh di sana dan aku bisa petiki hurufhurufnya untuk sebuah nama pada masa depan... Rumah kekasih, 11 Mei 2018 [irp]
=====

Yang Tak Matimati

  hujan turun di Muntea, alirkan daundaun ke tempat tidur dingin bacai tubuh lebih ritmis dari lagu wajib di upacara hari senin di halaman sekolah atau kantorkantor pemerintah, yang berpagar tinggi seorang lelaki menekuk lututnya menyentuh dadak. gemeratak giginya menggertak malam, mengusir pagi muntea pagi hari adalah kabut, orangorang sibuk menghitung jumlah sayuran, di sana ia menitip napasnya, dan masa depan di bangku sekolah rerumputan kuyup, sayang, rindu langit tiba menumbuhkan apa saja, juga cinta di hatimu pada puisi lalu, hujan tak menumbuhkan cinta itu. semalam hujan turun membawa sampahsampah di kepala. lalu hujan reda di hatimu. cinta tumbuh, entah untuk siapa. ia ingin itu untuknya, agar kamu tetap puisi, tak matimati. Muntea, Bantaeng, 13 Mei 2018 [irp]
Topik terkait
#puisi #sastra hijau #puisi dan ekologis #sastra ekologi #sastra dan lingkungan