Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Minum Kopi di Awan

Mengira Bumi   aku selalu menganggapmu bumi, tempat tumbuh segala kehidupan. tempat pulang semua bebijian. ke mana pun langkahku menuju. kehidupanlah kutemui. mimpi-mimpi mengemas dirinya...

Oleh Irhyl R Makkatutu 18 Oct 2025 15:18 2 menit baca

Mengira Bumi

  aku selalu menganggapmu bumi, tempat tumbuh segala kehidupan. tempat pulang semua bebijian. ke mana pun langkahku menuju. kehidupanlah kutemui. mimpi-mimpi mengemas dirinya dalam hijau padi aku lupa, bumi bisa lenyap dalam kerakusan, dan kau berubah jadi kealpaan. napas hilang dalam dadamu yang gersang tak ada dengungan lebah, rintih gerimis. tak ada kamu, tak ada bumi. hanya ada mimpi yang menghilang dalam senyap cekam TB, 2025 [irp]

Minum Kopi di Awan

  hujan pertama turun minggu ini. mengisi gelas kopimu yang menyisa ampas itu. setelah di tanak sangat matang oleh langit tanah meretak, doanya melengking jauh. dirinya telah siap mengandung bebijian. mengubahnya jadi pohon kopi, cengkeh, pala, nangka, manggis, juga anak-anak ayam langit saling mengunjungi, pada hujan pertama minggu ini. mereka minum kopi dalam awan TB, 2025

Jalan Sungai

  sepanjang jalan menuju pelukan. gegunung mengawasi dengan awas. tak ingin lewatkan seinci alir napas dua ekor anak ayam berkejaran. mencari air hujan di rerumputan yang baru saja tiba. jika tak segera di seruput akan di rampas awan tipis. jalan telah tersulap jadi sungai. jalan menuju kampung di seberang gunung memegalkan semua sendi dan rindu rekah angkuh hujan selalu punya alasan merusak jalan. kamu tahu kenapa. tanah dipindahkan ke tengah jalan, pinggirannya diangkut ke laut, lalu ke dalam matamu hujan, selalu punya cara membuat rindu membelukar. memotong jalan ke kampung di seberang jalan itu aku dan kamu menerka-nerka berdiri di sudut mana TB, 2025 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #puisi dan ekologis #minum kopi #sastra dan ekologi #awan