Green Life Style Versi penuh
Berita Lingkungan

Menyemai Harapan dari Pesisir Lae-Lae, Mahasiswa dan Anak Pulau Merawat Ruang Hidup

Oleh Tim Redaksi 09 Aug 2026 14:33 4 menit baca

Klikhijau.com - Angin laut menyapu pelan pesisir Pulau Lae-Lae, membawa aroma khas garam yang beradu dengan riak gelombang Selat Makassar. Di pulau kecil yang jaraknya hanya sejengkal dermaga dari pusat Kota Makassar ini, riuh tawa anak-anak berseragam sekolah terdengar riang. Langkah-langkah kecil mereka menyusuri sudut-sudut pulau, tidak sekadar melintas, melainkan membungkuk Jemari mereka yang terbungkus sarung tangan dengan cermat memunguti lembaran plastik, botol bekas, dan sisa kemasan yang tersangkut di antara pasir pesisir.

Keriuhan itu menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat bertajuk BASIS (Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa) yang diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) FISIP Universitas Hasanuddin pada 5 hingga 7 Agustus 2026. Berpusat di SMPN 41 Satu Atap Makassar, aksi ini hadir bukan sekadar gerakan pembersihan sesaat, melainkan ruang perjumpaan edukatif untuk menanamkan kesadaran ekologis sejak dini di wilayah pesisir.

standard Pulau Lae-Lae, sebagaimana pulau-pulau kecil lainnya di kawasan kepulauan Spermonde, berada pada posisi yang rentan secara ekologis. Pesisirnya kerap menjadi muara akhir bagi sampah domestik warga setempat sekaligus sampah kiriman yang terbawa arus laut.

Mengurai masalah limbah di kawasan seperti ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, gabungan antara pemahaman sosial, budaya lokal, serta perubahan perilaku yang konsisten.

Di dalam ruang kelas, suasana belajar dikemas secara interaktif. Para mahasiswa membagikan pemahaman mendasar mengenai klasifikasi sampah, dampak akumulasi plastik terhadap rantai makanan laut, hingga prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R). Edukasi teknis ini dituturkan lewat cara-cara yang membumi, memantik imajinasi anak-anak pulau agar mampu melihat sampah bukan lagi sebagai beban lingkungan semata, melainkan material yang masih memiliki peluang untuk diolah kembali secara kreatif.

Koordinator Divisi Humas HUMAN FISIP Unhas, Nabila Ali, menegaskan bahwa membangun kepedulian lingkungan pada generasi muda di kawasan pesisir adalah investasi jangka panjang. Perubahan besar di tempat yang paling terisolasi sekalipun selalu berakar dari kebiasaan-kebiasaan sederhana di lingkungan terdekat.

"Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Melalui BASIS, kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama," ungkap Nabila. Ia menambahkan bahwa kebiasaan memilah sampah yang dipelajari di sekolah diharapkan mampu menjadi 'virus kebaikan' yang dibawa pulang oleh para siswa ke rumah masing-masing.

Pendekatan ini disambut hangat oleh pihak sekolah. Wakasek Kurikulum SMPN 41 Satu Atap Makassar, Fadli, menilai hadirnya para mahasiswa membawa energi baru bagi proses pembelajaran ekologi anak didiknya. Kehadiran ruang diskusi dan aksi nyata seperti ini melengkapi materi teoritis yang selama ini diajarkan di kelas formal.

Ketua Tim Pelaksana BASIS, Muhammad Iksan Tasrim, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan sengaja dirancang seimbang antara aspek kognitif dan praktik lapangan. Anak-anak diajak mengenali perbedaan sampah organik dan anorganik, mengerti bahaya microplastic bagi biota laut, hingga mengeksplorasi keterampilan mengolah sampah menjadi barang bernilai guna.

"Melalui kegiatan ini, siswa dan siswi diharapkan mengetahui lebih baik tentang sampah serta pentingnya pengelolaan sampah untuk mengurangi volume sampah. Selain pemahaman teoritis, diperlukan juga kreativitas siswa dan siswi untuk mengembangkan keterampilan," tutur Iksan.

Menariknya, aksi yang berlangsung selama tiga hari ini tak cuma menjadi panggung edukasi satu arah. Dalam pandangan antropologis, interaksi antara mahasiswa dan warga lokal adalah proses saling belajar (co-learning). Ketua HUMAN FISIP Unhas periode 2026/2027, Muhammad Syahrul Sya’bana, menggarisbawahi bahwa persoalan sampah di wilayah kepulauan tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyalahkan kebiasaan individu semata.

Ada dimensi struktural yang lebih luas—mulai dari ketersediaan sarana pengelolaan sampah, pola konsumsi publik, hingga kebijakan tata kelola wilayah pesisir yang holistik. Selama kegiatan, para mahasiswa turut mengumpulkan data lapangan mengenai kondisi serta karakteristik sampah di Pulau Lae-Lae guna melengkapi pembacaan mereka atas masalah ini.

"Di program BASIS ini kita semua sama-sama belajar, siswa-siswi belajar tentang sampah, kami belajar tentang Pulau Lae-Lae," kata Syahrul.

"Persoalan sampah sejatinya adalah masalah struktural yang berakar dari kebiasaan individu hingga kebijakan di tingkat atas. Melalui program BASIS, kami mengambil langkah nyata untuk merespons krisis ini dengan membangun fondasi kesadaran lingkungan sejak dini dari generasi muda. Kami berharap langkah kecil ini bisa menggerakkan perubahan yang lebih besar," tambahnya.

Ketika matahari mulai condong ke barat di pesisir Lae-Lae, kantong-kantong sampah hasil pembersihan bersatu di titik kumpul. Namun yang tersisa setelah kegiatan usai bukanlah sekadar pesisir yang terlihat lebih bersih, melainkan benih-benih kesadaran baru yang tertanam di benak murid-murid pulau. Ketika generasi muda pesisir mulai memahami keterhubungan antara sampah di tangan mereka dengan kelestarian laut di depan rumah mereka, harapan akan keberlanjutan ekosistem kepulauan sedang dirawat dengan amat nyata.

Topik terkait
Lae lae Unhas Fisip Sampah Pesisir Plastik Botol Spermonde