Menobatkan Hutan sebagai "Sultan" yang Sesungguhnya

Klikhijau.com - Saat penanggalan menunjuk angka 21 Maret, di saat itulah jadi momentum yang tepat untuk merenungi, betapa besar jasa hutan bagi kehidupan ini. Tanggal 21 Maret memang telah dinobatk...

Menobatkan Hutan sebagai "Sultan" yang Sesungguhnya
Bacakan Artikel

Istilah sultan belakangan ini memang marak digunakan, khususnya pengguna media sosial. Hanya saja penggunaan kata sultan itu, telah mengalami perluasan makna.

Sultan adalah pemimpin suatu kerajaan atau negara. Istilah ini marak digunakan pada kerajaan zaman dahulu, meski sekarang masih ada beberapa negara yang menggunakan kata sultan pada pemimpin negaranya, misalnya Brunei Darusalam, bahkan di Indonesia, sultan juga masih berlaku di beberapa kerajaan di nusantara, misalnya Yogyakarta.

Namun sekarang ini, istilah sultan memiliki makna baru, yakni merujuk kepada orang kaya. Jadi, untuk menjadi sultan di zaman sekarang tak perlu jadi pemimpin negara, cukup memiliki kekayaan yang seolah tanpa ada batasnya dan suka membantu orang lain.

Jika menilik ke dalam diri hutan, maka hutan berpotensi besar dinobatkan sebagai sultan yang sesungguhnya. Kekayaannya tanpa batas dan level kebermanfaatannya kepada seluruh makhluk di Bumi ini tak terhitung.

Menariknya, meski telah menebarkan manfaat tak terhingga. Hutan memilih untuk tak meminta imbalan. Satu-satunya yang bisa ia minta hanyalah dirawat dan dilindungi.

[irp]

Fakta hutan adalah sultan

Berikut ini, seperti dikutip dari akun Instagram @madaniberkelanjutan.id adalah bukti hutan adalah sultan:


  • Menyembuhkan berbagai penyakit



Di dalam hutan banyak tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit. Hutan juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang dapat meredakan stress.


  • Mendukung perekonomian masyarakat



Banyak masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya di hutan. Sehingga kalau hutannya lestari dan tetap asri, perekonomian masyarakat akan terlindungi dan apabila hutan rusak, maka mata pencaharian mereka akan terancam rusak.


  • Menyediakan sumber makanan dan air minum



Hutan memiliki ekosistem yang ajaib, sehingga mampu menyediakan ragam kebutuhan nabati dan hayati bagi manusia. Hutan juga menyerap air hujan dan menyaringnya menjadi air bersih yang bisa kita minum.


  • Hutan bikin bumi jadi dingin



Emisi karbon dioksida yang terus meningkat bikin bumi makin panas. Efeknya es kutub mencair , matinya flora dan fauna serta menjadikan manusia  makin emosian. Untungnya ada hutan yang bisa menyerap karbon dioksida. Semakin banyak hutan yang tidak ditebang, maka semakin besar karbon dioksida yang diserap sehingga pemanasan global dapat dicegah dan bumi jadi lebih adem.


  • Rumah bagi keanekaragaman hayati



Lebih dari 80 persen keanekaragaman hayati darat dunia berada di dalam hutan. Karenanya, jika hutan rusak, maka keanekaragaman hayati bakal hancur.

Oya, sahabah hijau peringatan Hari Hutan Indonesia adalah  inisiatif Konsorsium Hari Hutan Indonesia, sebuah forum kolaborasi terdiri dari 27 anggota lintas organisasi. Ke-27 anggota itu memiliki kesadaran dan misi yang sama, yakni berkomitmen penuh  untuk pelestarian hutan negara tercinta ini.

Tahun ini, tema yang diangkat adalah Hutan Kita Sultan’  dengan harapan  jadi pemantik bagi khalayak luas untuk lebih peduli dan sadar akan upaya pelestarian hutan Indonesia, serta mendorong HHI diresmikan oleh Pemerintah Indonesia dan bisa diperingati setiap tanggal 7 Agustus di tahun berjalan.

[irp]

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2