Mencari Longsor di Mata Ayah
hujan tak mengizinkan keluar rumah. mereka berdiri di depan pintu jadi tombak
ayah gelisah, kopi sedang memerah rindu di kebun. hujan menyulap tikus lebih la...
Mencari Longsor di Mata Ayah
hujan tak mengizinkan keluar rumah. mereka berdiri di depan pintu jadi tombak
ayah gelisah, kopi sedang memerah rindu di kebun. hujan menyulap tikus lebih lapar dan rakus. kopi-kopi itu akan dilahap. jatuh ke tanah jadi
pallangnga'
atau dicuri air hujan, dibawa ke sungai. lalu tiba di
laut sebagai mata ikan.
setiap hujan tiba memainkan musiknya di atap
rumah. ibu selalu gagal tidur. telinganya acap menangkap suara tanah longsor.
ketika pagi, ia akan bercerita dan menerka-nerka, di bagian mana longsor itu terjadi
aku akan mengecek media sosial, mata segala mata, mulut segala mulut itu selalu mengabarkan banyak perihal
ayah menatap keluar jendela. diseruputnya kopi yang telah dingin itu. matanya menjadi merah kopi yang berjatuhan dalam hujan dimakan tikus
dan ibu akan menatap mata ayah, mencari
longsor di sana.
2024
[irp]
Ampas Kopi dan Bunga Ibu
ampas kopi yang menyisa di dasar gelas ayah itu, tak lagi dibuang ibu. sejak ibu menanam bunga marigold di halaman rumah
ibu menyimpan
ampas kopi itu, dikumpulkannya dengan penuh
aroma bunga.
ayah selalu meminum kopi, dua atau tiga kali sehari dan ibu pencinta bunga yang memikat
ampas kopi itu didiamkan semalam, lalu disiramkan pada bunga marigold. ayah selalu saja mengejek ibu. dan ibu akan menambah dosis kopi ayah, lebih pahit dari sebelumnya
bunga marigold itu tumbuh tak lumrah. tinggi menjulang dan subur. ampas kopi telah berjodoh dengannya sebagai pupuk
ayah lalu memuji ibu, dan ibu selalu menambah dosis kopi ayah, agar lebih pahit dan menumbuhkan bunga lebih banyak di hati ibu
2024
[irp]
Menghapus Pohon di Kepala
aku ingin ke kotamu di utara. mendengar deru kendaraan yang sering kau keluhkan dan panas yang merampas semua peluhmu.
ketika tiba nanti, suarakulah yang akan kau dengar. akan kuceritakan perihal pohon-pohon yang tumbuh dipinggir jalan.
pohon-pohon itu menampung burung-burung, meredam suara kendaraan, menangkal panas, menyerap polusi
jalan, di mana pohon-pohon itu bertumbuh dikeluhkan sempit. lalu jalan diperlebar, pohon-pohon ditumbalkan
suara
kendaraan semakin liar bertualang ke telinga, panas semakin jelajahi kulit, polusi udara menghuni paru-paru
aku ingin ke kotamu, tapi tak pernah diizinkan hujan. dan aku menghapus cerita tentang pohon-pohon itu dari kepalaku
tapi tidak denganmu
2024
[irp]