Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menghapus Pohon di Kepala

Mencari Longsor di Mata Ayah   hujan tak mengizinkan keluar rumah. mereka berdiri di depan pintu jadi tombak ayah gelisah, kopi sedang memerah rindu di kebun. hujan menyulap tikus lebih la...

Oleh Tim Redaksi 02 Jun 2024 12:55 2 menit baca

Mencari Longsor di Mata Ayah

  hujan tak mengizinkan keluar rumah. mereka berdiri di depan pintu jadi tombak ayah gelisah, kopi sedang memerah rindu di kebun. hujan menyulap tikus lebih lapar dan rakus. kopi-kopi itu akan dilahap. jatuh ke tanah jadi pallangnga' atau dicuri air hujan, dibawa ke sungai. lalu tiba di laut sebagai mata ikan. setiap hujan tiba memainkan musiknya di atap rumah. ibu selalu gagal tidur. telinganya acap menangkap suara tanah longsor. ketika pagi, ia akan bercerita dan menerka-nerka, di bagian mana longsor itu terjadi aku akan mengecek media sosial, mata segala mata, mulut segala mulut itu selalu mengabarkan banyak perihal ayah menatap keluar jendela. diseruputnya kopi yang telah dingin itu. matanya menjadi merah kopi yang berjatuhan dalam hujan dimakan tikus dan ibu akan menatap mata ayah, mencari longsor di sana. 2024 [irp]

Ampas Kopi dan Bunga Ibu

  ampas kopi yang menyisa di dasar gelas ayah itu, tak lagi dibuang ibu. sejak ibu menanam bunga marigold di halaman rumah ibu menyimpan ampas kopi itu, dikumpulkannya dengan penuh aroma bunga. ayah selalu meminum kopi, dua atau tiga kali sehari dan ibu pencinta bunga yang memikat ampas kopi itu didiamkan semalam, lalu disiramkan pada bunga marigold. ayah selalu saja mengejek ibu. dan ibu akan menambah dosis kopi ayah, lebih pahit dari sebelumnya bunga marigold itu tumbuh tak lumrah. tinggi menjulang dan subur. ampas kopi telah berjodoh dengannya sebagai pupuk ayah lalu memuji ibu, dan ibu selalu menambah dosis kopi ayah, agar lebih pahit dan menumbuhkan bunga lebih banyak di hati ibu 2024 [irp]

Menghapus Pohon di Kepala

  aku ingin ke kotamu di utara. mendengar deru kendaraan yang sering kau keluhkan dan panas yang merampas semua peluhmu. ketika tiba nanti, suarakulah yang akan kau dengar. akan kuceritakan perihal pohon-pohon yang tumbuh dipinggir jalan. pohon-pohon itu menampung burung-burung, meredam suara kendaraan, menangkal panas, menyerap polusi jalan, di mana pohon-pohon itu bertumbuh dikeluhkan sempit. lalu jalan diperlebar, pohon-pohon ditumbalkan suara kendaraan semakin liar bertualang ke telinga, panas semakin jelajahi kulit, polusi udara menghuni paru-paru aku ingin ke kotamu, tapi tak pernah diizinkan hujan. dan aku menghapus cerita tentang pohon-pohon itu dari kepalaku tapi tidak denganmu 2024 [irp]
Topik terkait
#pohon #longsor #polusi udara #puisi lingkungan #puisi dan ekologis #hujan