Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Mengenang Badaruddin Amir Melalui 7 Puisinya yang Bernapas Alam

Klikhijau.com - Indonesia, Khususnya Sulawesi Selatan sedang berduka. Sebab telah kehilangan salah satu sastrawan yang dimilikinya, yakni Badaruddin Amir yang meninggal pada hari Sabtu, 26 Oktiber 202...

Oleh Tim Redaksi 27 Oct 2024 12:22 5 menit baca
Klikhijau.com - Indonesia, Khususnya Sulawesi Selatan sedang berduka. Sebab telah kehilangan salah satu sastrawan yang dimilikinya, yakni Badaruddin Amir yang meninggal pada hari Sabtu, 26 Oktiber 2024. Badaruddin Amir yang lebih akrab disapa Badar merupakan sastrawan dan seorang guru kelahiran Barru pada 4 Mei 1962. Semasa hidupnya, Badar aktif menulis esei, puisi, dan cerpen di beberapa media. Ia juga memenangi berbagai lomba menulis puisi dan cerpen baik di tingkat propinsi maupun tingkat nasional. Beberapa karyanya dapat dijumpai dalam bentuk buku, yakni kumpulan puisinya berjudul “Aku Menjelma Adam” (Saji Sastra Indonesia, 2002), kumpulan cerpennya “Latopajoko & Anjing Kasmaran” (Akar Indonesia, 2007), “Laki-Laki yang Tidak Memakai Batu Cincin” (FAM Publishing, 2015), dan “Risalah” (Gora Pustaka, 2019), sedang kumpulan esainya berjudul “Karya Sastra Sebagai Bola Ajaib” (Nala Cipta Litera, 2008). Karya-karya Badar yang lain baik esai, cerpen maupun puisi termuat dalam enam puluhan antologi bersama. November 2005 Badaruddin Amir menerima anugrah seni bidang sastra “Celebes Award” dari Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan, Desember 2017 menerima penghargaan “Acarya Sastra” dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan Desember 2019 dinobatkan sebagai “Promising Writers” pada Banjarbaru’s Rainy day Literary Festival 2019. [irp] Beberapa puisi Badar bernuansa alam, ia menggunakan diksi alam untuk memperindah dan membuat puisinya lebih puitik dan limpahan makna. Berikut 7 puisinya yang bernapas alam:

Bunga

  bunga-bunga takwa yang kau tanam di hatimu kini sudah mulai mekar daunnya merimbun menyeruak lengkunglangit akarnya menyimpan kenangan di dasar sanubari dan kelopak-kelopaknya helai demi helai mengisyaratkan cinta kita pada semesta. Barru, 1995 [irp]

 Riwayat Hujan

  telah tercatat pada daun-daun gugur menguning telah tercatat pada cahaya-cahaya telaga bening riwat hujan di negeriku yang turun semusim antara gerimis senjahari dan badai yang menderu tersimpan resia musim yang terkepik di ketiak waktu bianglalapun turun menghubungkan bumi dan langitmu kalau kau langit biru yang mencatat riwayat hujan kalau kau bumi yang mengekalkan musim jadi kenangan kalau kau kuterima takdir daun-daunku merabuk jadi impian dan hujan di luar teruslah tumpah mencatat riwayatmu ! [irp]

 Kerinduan pun Terus Mengalir Bersama Angin Malam

. di pulau tempat kita memadu cinta masih tersimpan sisa kenangan yang mengingatkanku pada lembut kata-kata tersekat pada kerongkongan kita karena embun pagi mulai terasa . masih terkenang pula gelombang laut yang diciptakan angin begitu tergesa dan geliat ikan yang mengambang ke permukaan bersama galau hati kita, tapi lihatlah kerinduan terus saja mengalir bersama angin malam menggigilkan lampu-lampu pelabuhan dan mimpi kita yang lewat begitu cepatnya . akupun ngungun dan kau menunjuk kerdip bintang di langit ketika wajahmu pelan-pelan berubah jadi mendung dan berbisik tentang ketakutanmu akan sebuah dongeng kepalsuan “aku tak sanggup saling menipu” katamu mendekap hati sambil berlari menuju ke pantai . malam itu anginpun luruh membiarkan kerinduan terus mengalir saat masih ada kisah tentang anak puan We Cudai yang belum pulang dari kembaranya belum lagi selesai kuceritakan padamu . Barru 1999 [irp]

 Biografi Rumput

  dari mana memperoleh keyakinan untuk tumbuh sehelai rumput yang hidup di atas batu, kekasih batu gitu keras tak terhunjam akar ke permukaan bumi hanya embun yang memberinya minum melepas dahaga yang ditikamkan matahari di atas sana dari mana memperoleh kepercayaan gitu kukuh bila pada akhirnya terik matahari adalah bencana, kekasih pagi hari gitu bangun terusik oleh gerah matahari di luar musim hanya embun yang menyelimutinya malam hari dengan keyakinan yang meninabobokkannya pada mimpi-mimpi bianglala tapi tidak setiap rumput yang tumbuh di atas batu harus menyerah pada pautan waktu karena kau tahu, kekasih diriku adalah sehelai rumput yang tumbhuh di luar musim yang bergiming pada batu dan terik matahari apalagi embun yang sudah lama tak memberi minum padaku sepanjang tahun [irp]

Riwayat Air

  air yang mengalir di sungai dari hulu ke muara katamu awalnya adalah air dari dalam tanah ia bengitu cinta pada langit dan berdoa agar matahari mengurainya jadi uap lalu menerbangkannya ke langit menjadi awan menjadi mendung karena ia amat senang pada ketinggian ia lupa pada asal dan gravitasi bahwa bumi adalah tempat untuk kembali saat gelegar guntur mengagetkannya jutaan butir air berguguran lepas dari pelukan awan terhisap gravitasi bumi yang segera menguburnya ke dalam tanah kini air kembali ke tanah meresap ke dalam pori-pori bumi yang gugur tanpa tahu diri akan terusir selamanya ke laut melalui sungai-sungai bening sebelum matahari menghukumnya mengisapnya lagi ke langit dan menjatuhkannya berulang kali [irp]

 Kesenangan Membaca Angin

  tidak setiap musim ada angin berkesiur begitu kencangnya tapi aku terlanjur kesenangan membaca angin, maka kubaca angin sepoi yang datang sebagai topan melanda kampung dan kubaca atap rumah beterbangan sebagai layangan wahai, alangkah dahsyat membaca angin kencang takdir-Mu yang berkesiur di atas jalan raya kehidupan dan nasibku mimpiku adalah iradat yang Kau tuliskan dalam catatan-Mu sebagai kawula aku membacanya dari awal dengan keyakinanku maka takdirpun kuterima sebagai buku terbuka, dan kubaca nasibku dalam lembarannya yang putih tak beraksara tapi demi angin aku tak ingin membacanya sebagai topan karena kuyakin Kau Mahabijaksana lagi Maha memberi ampun maka biarkan aku hanyut dalam kesiur angin kecil takdir-Mu menapak jalan berliku yang terbentang di hadapanku! [irp]

Aubade Burung-Burung

pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu bernyanyi riang tembira setiap pagi bahagianya membangunkan tidur bunga hingga kelopak-kelopak mekar sebelum matahari sempurna bersinar pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu melantungkan siulnya padahal udara di luar sangat dinginnya lihatlah betapa lincah mereka menari dari dahan ke ranting lalu melompat ke batu-batu menjalin percintaan dengan Sang Waktu pesona apakah yang menyebabkan burung-burung kecil itu bernyanyi setiap waktu dan terus bernyanyi seperti semua abadi ah, cemburuku mengawetkan cinta bagi hidup dengan puisi ! Barru, 1998 [irp]
Topik terkait
#puisi lingkungan #penulis #sastrawan sulsel #badaruddin amir