Mengenal Burung Cekakak Merah yang Pemalu
Klikhijau.com - Setiap orang memiliki kesenangan tersendiri. Kesenangan melakukan sesuatu dengan suka rela dan senang hati. Kesenangan yang berujung menjadi hobi. Mengamati satwa di alam liar adalah h...
Klikhijau.com - Setiap orang memiliki kesenangan tersendiri. Kesenangan melakukan sesuatu dengan suka rela dan senang hati. Kesenangan yang berujung menjadi hobi. Mengamati satwa di alam liar adalah hobi saya. Satwa apa saja, asalkan dia berada di tempat yang seharusnya dia berada. Seperti halnya perjalanan yang mempertemukan saya dengan seekor burung menawan.
Hari itu: Senin, 31 Januari 2022. Senin yang syahdu. Mendung sedari fajar menyambut.
Meski begitu tak menyurutkan langkah kita bertebaran di muka bumi. Mencari rezeki masing-masing.
Bertemu dengan si molek: cekakak merah, adalah rezeki bagi saya. Bertemu kala menyambangi kediamannya di tepi belatara karst. Belantara karst yang berada di salah satu sudut Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Bertengger manis di dahan jati. Saat menyadari kedatangan saya dia berpindah tempat. Saya pun akhirnya mengetahui keberadaannya.
Kami pun memulai permainan petak umpetnya. Saya belum siap bermain. Saya kemudian bersembunyi, menyiapkan amunisi. Si doi terus waspada. Sedikit terganggu dengan kehadiran seseorang di rumahnya. Seperti dia sudah memulai permainannya.
Senjata saya - kamera - sudah siap. Saya kemudian mengendap-endap perlahan. Mendekatinya. Mencari sudut pandang yang tepat. Saya melepas alas kaki. Tujuannya agar tak terdengar si Ruddy Kingfisher, nama bekennya.
[irp]
Sesekali saya mengintipnya. Nampak ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Memasang baik-baik indra pendengarannya.
Saya kemudian memutuskan mengintipnya di balik pilar jembatan gantung yang berada di salah satu sisi sungai. Cukup sulit mencari sudut tepat. Saya sudah berjarak lima meteran.
Pandangan saya cukup leluasa. Hanya saja ada ranting yang menghalangi. Saya akhirnya berpindah tempat. Bergeser ke kiri. Saat itu pula si doi mengetahui pergerakan saya. Akhirnya di terbang menjauh. Terbang sepelemparan batu. Terbang ke tebing karst. Ia bertengger di dahan pohon yang tumbuh di atas batu.
Meski jauh, tak lebih lapang. Tak ada yang menghalangi pandangan. Saya pun dengan sigap mengabadikan gambarnya. Sayang cahaya tepat berada di belakangnya. Membuat back light tak terhindarkan.
Dalam dunia fotografi cahaya sangat berpengaruh. Justru cahayalah cukup signifikan berperan menghasilkan gambar yang baik. Tentunya juga objek tak kalah pentingnya.
Cukup lama ia bertengger di sana. Tak lama kemudian dia berpindah tempat. Lebih jauh lagi. Membuat saya tak bisa mengejarnya.
Saya cukup senang bisa menikmati elok tubuhnya. Warnanya yang merah membuat saya terpukau. Warna yang tak lazim, terutama di dunia burung cekakak.
[irp]
Paruhnya cukup besar. Warnanya pun senada dengan bulu badannya, merah karat. Dadanya sedikit lebih cerah. Berwarna oranye. Meski tak berhasil mengabadikan dari belakang, tunggirnya memiliki berwarna biru muda. Paduan yang tak biasa.
Konon, kelompok burung iini kerap disebut raja udang atau Kingfisher, karena banyak di antara anggotanya memiliki warna seperti udang.