Mengais Rupiah dari Budidaya Belatung
Klikhijau.com - Mendengar kata belatung mengingatkan kita pada sesuatu hal yang berhubungan dengan sampah dan kotoran. Karena itu, banyak dari kita yang cenderung untuk menghindari hewan yang satu ini...
Klikhijau.com - Mendengar kata belatung mengingatkan kita pada sesuatu hal yang berhubungan dengan sampah dan kotoran. Karena itu, banyak dari kita yang cenderung untuk menghindari hewan yang satu ini.
Namun, siapa sangka kalau ternyata belatung dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah organik yang kian menumpuk sekaligus dapat membawa pundi-pundi rupiah.
Ide inovatif ini begitu digeluti oleh Rendria Arsyan, seorang pemuda asal Bogor yang mencoba membudidayakan larva jenis lalat black soldier fly (BSF). Melalui perusahaan Magalarva milknya, Rendria mampu menyulap tumpukan sampah menjadi ladang penghidupan.
Rendria menaruh perhatian lebih pada permasalahan sampah yang kian hari semakin menumpuk. Keresahannya bertambah setelah mengetahui jumlah sampah organik ternyata lebih banyak diibanding sampah non organik.
Namun, hal ini sangat jarang diperhatikan publik yang justru lebih menaruh perhatian pada sampah plastik.
“Kalau diliat dari statistiknya, 60-70% sampah di Indonesia itu organik, saya jadi malah bingung, kenapa kok lebih fokus di plastik nih. Kalau gitu sebenarnya yang lebih butuh diberikan solusi adalah sampah organik dong,” jelasnya dalam video dokumenter di chanel youtube opini id.
[irp]
Rendria mencontohkan masalah sampah di Ibukota Jakarta yang setiap harinya kian menumpuk. Jumlah sampah di ibukota setiap harinya mencapai 7.000 ton sampah campuran.
Jika dikalkulasikan, 60% dari total sampah ibukota setiap hari berjumlah 4.200 ton sampah organik, yang sebenarnya dapat diselamatkan melalui inovasi budidaya larva miliknya.
Setiap harinya, Magalarva mampu mengelola 6 ton sampah organik menjadi makanan larva. Tumpukan sampah yang terkumpul di gudang sederhana miliknya sebelum diproses, terlebih dahulu digiling menjadi bubur untuk menjadi makanan bagi larva lalat BSF.
Bubur sampah organik ini disimpan dalam kandang larva yang berbentuk box berukuran kurang lebih 1 meter persegi. Larva dari lalat BSF dipilih karena kandungan protein dalam larva yang besar untuk dijadikan pakan ternak, yang merupakan salah satu produk dari magalarva.
“Magalarva itu sumber dari protein yang sustainable yang bisa digunakan untuk bahan baku pakan ternak dan diproduksinya menggunakan bantuan teknologi. Spesies serangga yang dibudidayakan yaitu black soldier fly (BSF). BSF ini memang dikenal bisa merubah sampah organik untuk menjadi makanan mereka dan mereka itu tumbuh untuk bisa memiliki protein yang sangat tinggi,” sambung CEO Magalarva.
[irp]