Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Mencegah Bulukumba Bernasib Sama dengan Jawa, Founder ECOTON Ajak Pelajar SMPN 10 Belajar Membaca Kesehatan Sungai

Oleh Arman Jaya 14 Aug 2026 23:00 3 menit baca

Klikhijau.com - Aliran sungai di kawasan industri dan perkotaan Pulau Jawa telah lama menanggung beban berat pencemaran limbah domestik serta timbulan mikroplastik. Sebelum ancaman krisis ekologis serupa merayap luas ke kawasan selatan Sulawesi Selatan, sekitar 40 siswa kelas 9 SMP Negeri 10 Bulukumba berkumpul di ruang kelas mereka pada Kamis (13/8/2026) untuk mengambil langkah pencegahan. Digerakkan oleh Prigi Arisandi, Pendiri ECOTON sekaligus Ketua Telapak, para pelajar ini dilatih membaca indikator kesehatan sungai setempat agar benteng ekologis perairan Bulukumba tidak melandai.

Edukasi yang berlangsung hangat tersebut menggarisbawahi posisi strategis perairan darat Bulukumba yang relatif masih menyimpan kekayaan biologis. Dalam rentang perjalanan riset lingkungan di Indonesia,Prigi menyaksikan puluhan sungai besar kehilangan kemampuan pemulihan mandirinya (self-purification) akibat tekanan berlebih dari sampah plastik dan buangan cair. Ikan mati massal hingga hilangnya serangga air menjadi pemandangan kaprah di pulau berpopulasi padat.

Kondisi kontras justru terlihat di Bulukumba. Sungai-sungai di daerah ini masih menjadi benteng pertahanan flora dan fauna air. Berbagai organisme, mulai dari larva capung, serangga air, hingga keanekaragaman jenis ikan lokal, masih beraktivitas membentuk jaring-jaring makanan yang stabil.

“Sungai itu hidup. Di dalamnya ada ikatan yang saling menopang antara tanaman, ikan, dan mikroorganisme. Mengamati mereka adalah cara paling jujur untuk tahu apakah air yang mengalir di sekitar tempat tinggal kita masih sehat atau sudah teracuni,” papar Prigi di hadapan para siswa dan guru.

Namun, perlindungan lingkungan tidak cukup bersandar pada asumsi kasat mata. Prigi mendorong anak-anak muda di Bulukumba untuk mengadopsi pendekatan citizen science atau sains warga. Dalam sesi pelatihan ini, para siswa diperkenalkan pada metodologi pemantauan sungai sederhana yang terukur. Mereka diajarkan cara mengidentifikasi bioindikator, seperti keberadaan serangga makroinvertebrata yang sensitif terhadap polusi—melakukan uji parameter fisik air, hingga mendeteksi keberadaan serpihan mikroplastik.

Melalui pendekatan ilmiah yang membumi ini, data yang dikumpulkan oleh pelajar sekolah dapat dimanfaatkan sebagai basis argumentasi yang kuat. Ketika masyarakat memiliki catatan berkala mengenai kondisi airnya, upaya advokasi kepada pembuat kebijakan maupun aksi korektif di tingkat komunitas menjadi berbasis bukti empiris, bukan sebatas asumsi.

“Anak-anak muda harus kenal karakteristik sungainya sendiri. Mulai dari hal mendasar: kejernihannya, jenis ikan yang berenang, tanaman di sempadan, sampai uji keberadaan mikroplastik. Saat kita memegang data, kita punya kekuatan untuk menjaga sungai tetap bersih,” lanjut penerima penghargaan Goldman Environmental Prize tersebut.

Pendekatan berbasis pengalaman langsung ini menyengat kesadaran para peserta. Andi, salah satu siswa kelas 9 yang mengikuti jalannya diskusi, mengaku mendapatkan cara pandang baru terhadap lingkungan di sekitar rumahnya. Pengenalan pada fungsi rinci ekosistem sungai mengubah persepsinya yang selama ini menganggap air mengalir sekadar bentang alam biasa.

“Saya baru mengerti kalau keberadaan serangga kecil di air itu tanda sungai kita masih bagus. Penjelasan ini membuat saya ingin mengajak teman-teman di rumah untuk berhenti buang sampah ke aliran air dan membiarkan pohon-pohon di pinggir sungai tetap tumbuh,” ungkap Andi.

Inisiatif edukasi di SMPN 10 Bulukumba ini menjadi cetak biru kecil bagi pembentukan gerakan pengawas lingkungan berbasis sekolah. Menggeser peran generasi muda dari sekadar pendengar menjadi pengamat aktif yang berdaya di lapangan.

Menjaga kelestarian perairan memang tidak selalu menuntut teknologi rumit atau anggaran raksasa. Tindakan kolektif seperti merawat vegetasi benteng sempadan, menekan konsumsi plastik sekali pakai, serta rutin mencatat perubahan fisik air adalah fondasi utama jurnalisme dan aksi lingkungan yang berorientasi pada solusi.

Bulukumba saat ini memegang kendali atas garis waktu ekologinya sendiri. Bergerak merawat bentang air saat kondisi ekosistemnya masih sehat jauh lebih efektif dan rasional daripada melakukan restorasi mahal saat sungai telah terlanjur mati. Menjaga aliran air hari ini adalah investasi paling nyata untuk memastikan keberlanjutan hidup dan keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan di masa depan.

Topik terkait
Citizens sains Ecoton Sungai Kesehatan Bulukumba Edukasi Pelajar Lingkungan