Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Menangisi Kekeringan

Jadi Hujan   kita telah jadi hujan, dimaki sepanjang hari seorang bocah yang telat main bola. lapangan jadi becek, ibunya tak ingin ia flu kita mengguyur sepanjang hari. kabulkan doa petani tu...

Oleh Irhyl 08 Feb 2025 14:13 2 menit baca

Jadi Hujan

 

kita telah jadi hujan, dimaki sepanjang hari seorang bocah yang telat main bola. lapangan jadi becek, ibunya tak ingin ia flu

kita mengguyur sepanjang hari. kabulkan doa petani tua. sawahnya kekeringan. setelah semen irigasi masuk kantong.

tandabaca, Feb 2025

[irp]

Menyambut di Bumi

 

aku sedang sendiri ketika kabut datang. ia tutupi mataku dengan wajahmu yang samar. lebih berkabut.

pelangi sudah lama hilang di langit. sejak tak ada pohon tempat menyambut ia di bumi

tandabaca, 2025

[irp]

Ketakutan Ibu

 

pohon di samping rumah meranggas. ayah memotong akarnya bulan lalu.

ketika angin bertiup. ibu menutup mata dan telinganya. ia berlari meninggalkan rumah

tandabaca, 2025

[irp]

Menangisi Kekeringan

 

kopi telah usai kau sesap. saatnya mencuci gelas

air tak lagi mengalir

air berpindah ke matamu jadi air mata. menangisi kekeringan.

2025

[irp]

Sebagai Sawah

 

aku tiba di mata sebagai sawah. bawa gemericik air, lumpur, dan juga aroma asing.

tak ada apa selain itu. selalu ingin kau tanami dengan pasir, semen, dan batu

[irp]

2025

Tempat Menyeruput Kopi

  hujan tiba dan kau tak membawa payung aku hanya kenakan kaos tipis hadiah kampanye tak bisa menghangatkanmu dari gigil yang gigih aku selalu siapkan pelukan. tempat paling mungkin kau kunjungi dalam hujan kau tak perlu membayarnya dengan kecupan cukup siapkan saja matamu sebagai tempat aku menyeruput kopi 2025 [irp]
Topik terkait
#pohon #ekologi sastra #puisi lingkungan #puisi alam #kekeringan #sastra dan lingkungan