Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Menanam Pohon di Mata

Segelas Kerakusan sebatang pohon mampir ke rumahmu subuh itu. saat kau sedang bermimpi membuat villa di pinggir hutan. tempat menjamu lidahmu segelas kerakusan hidup rasanya sempurna, setiap pagi...

Oleh Idris Makkatutu 30 Nov 2025 13:04 2 menit baca

Segelas Kerakusan

sebatang pohon mampir ke rumahmu subuh itu. saat kau sedang bermimpi membuat villa di pinggir hutan. tempat menjamu lidahmu segelas kerakusan hidup rasanya sempurna, setiap pagi ada suguhan kopi berkawan pisang goreng. dihibur kicau sendu jarolli yang kau tangkap dari hutan. kau tak menyelesaikan mimpimu. terbangun tergesa dengan celana telah kuyup. kau pikir sedang ngompol atau sedang mimpi basah setelah dalam mimpimu, Sania, mantan istrimu menyeduhkan kopi di halaman villa yang belum rampung setelah pakkasiamu pulih, kau temukan rumahmu telah berubah jadi pelabuhan kayu. tak ada villa, hanya ada air berwarna kopi susu 2025 [irp]

Menanam Pohon di Mata

  maukah kau menanam pohon di mataku agar tersimpan seluruh air mata dalam tubuhku tak tumpah, saat pergimu nanti aku tak ingin kau kuyup oleh air mataku merusak baju pesta ungu mudamu itu aku ingin tak pernah ada hujan, juga kemarau mendung saja menggantung di rahim senja biar banjir tak mendapat caci-maki gerah berlari ke bawah pohon senja dan aku berlari ke pelukmu sebagai bencana 2025 [irp]

Menjadi Angin dan Ingin

  pagi tiba dan semua menjadi kamu kenangan di jendela, dapur, ruang tamu, kamar mandi, dan langit pagi yang mendung kadang aku ingin jadi angin terbangkan daun asam jawa di belakang rumah hingga menutupi seluruh kepalamu kadang aku ingin jadi pesan di medsos, lupa kau buka dan baca sebab isinya hanyalah pelukan tak lepas hingga petang ini adalah pagi yang kacau oleh rindu seorang anak pada ayahnya sejak kemarin tak pulang ke rumah ia pulang ke rumah abadi setelah sebatang pohon asam tumbang meninabobokkannya bersama maut tanah mulai bergerak sayang, seperti pagi bergerak ke siang. tanah mulai menuju rumah dan pagi tak pernah menjadi apa-apa selain luka duka Kindang, 2025 [irp]
Topik terkait
#puisi #bencana alam #puisi lingkungan #menanam pohon #puisi ekologi