Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Tanaman Hias dan Herbal

Memetik Manfaat Ekologis Clerodendrum Quadriloculare di Balik Keindahannya

Oleh Irhyl R Makkatutu 17 Sep 2026 05:11 4 menit baca

Klikhijau.com - "Allemi!" Ujar Ummang. Ia seperti sangat mengerti jika saya menginginkan tanaman yang tumbuh di halaman rumahnya.  Bila saja saya tak mengenalnya, tentu akan berpendapat, ia lulus mata kuliah pragmatik dengan nilai A plus. Sebab begitu saya mendekati tanaman itu, ia langsung paham maksudku. Itu adalah gestus meminta.

‎‎Padahal saat itu saya hanya mengeluarkan dua kata, gammarana di (indah sekali)? Pernyataan yang langsung ditanggapi dengan kata pertama pada tulisan ini, allemi (ambil saja)

‎‎"Bubbu'mi!" Katanya lagi begitu lihat saya ragu mencabutnya.

‎Dan akhirnya dengan sekuat tenaga, saya mencabut tanaman berbunga indah itu.

‎‎Berada di Tabaya

‎‎Tanaman itu ummang bawa dari kampungnya, Kajang. Sebuah kecamatan yang ada di Bulukumba. Ia membawanya ke Kindang karena tahu, istrinya sangat menyukai bunga-bunga (tanaman hias). Sepertinya itu bukti cintanya pada perempuan yang telah mengkadoinya dua orang buah hati.

‎‎Bunga-bunga yang dibawa Ummang telah berkembang biak. Yang saya cabut adalah anakannya entah yang keberapa.

‎"Kacoa kalea timbo," katanya lagi menerangkan jika tanaman itu mudah sekali tumbuh.

‎‎Saya tak mendiamkannya lama, begitu sampai di rumah, saya bergegas ke Bukit Tabaya (tandabaca Sapayya) untuk menanamnya. Saat sampai, Nasir telah ada di Tabaya, ia adalah pemuda yang ikut mengelolah bukit kecil itu—yang juga dijadikan sebagai perpusatakaan.

‎‎Dengan suka rela, diambilnya tanaman itu lalu menanamnya. Tak ada perlakuan khusus dari cara menanamnya. Nasir hanya menggali tanah—tak terlalu dalam. Lalu menancapkan tanaman itu.

‎‎Seolah ingin membuktikan pernyataan Ummang jika tanaman itu kacoa (mudah) tumbuh.

‎‎Tanggal 8 September 2026 lalu, ketika bunganya mulai mekar—saya memotretnya.  

‎‎Dari hasil potretan itu, saya kemudian melacaknya. Mencari tahu namanya. Rupanya tanaman itu bernama Clerodendrum quadriloculare, juga dikenal dengan nama starburst bush ada juga yang menamainya sebagai bunga kembang api, karena saat bunganya mekar terlihat seperti kembang api yang berhamburan di langit. Ada juga yang menamainya bintang jatuh.

‎‎ Clerodendrum quadriloculare, salah satu spesies tumbuhan berbentuk perdu dari famili Lamiaceae (suku nilam-nilaman). Asalnya dari bioma beriklim tropis basah di wilayah Filipina, Papua. Pada tahun 1905 untuk pertama kalinya tanaman ini dipublikasikan oleh botanis Francisco Manuel Blanco.

Bunganya sangat kontras dengan warna tangkainya yang berwarna ungu. Sementara bunganya berwarna putih bersih. Jumlahnya lima helai bunga dengan mahkota yang tumbuh beberapa inci di atasnya.

‎‎Daunnya, pada bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan pada bagian bawahnya berwarna ungu. Batangnya juga berwarna ungu kehitaman. Ia tumbuh tak terlalu tinggi.

Manfaat ekologis yang tersembunyi

Dilansir dari picturethisai, hal yang unik dari tanaman ini adalah warna bunganya yang sangat mencolok. Bunganya  menyerupai ledakan bintang dalam nuansa ungu muda atau pink dan putih. Ledakan itu menciptakan pemandangan visual yang eksotis

Selain bunganya, tanaman ini juga memiliki daun mengkilap, sehingga akan selalu hijau dan menjamin daya tarik sepanjang waktu.  

Daunnya membentuk kanopi yang lebat. Kombinasi bunganya yang cerah dan daunnya jadi pemandangan yang sayang jika diabaikan.  

 Sobat hijau, selain indah, ada manfaat ekologis dari  tanaman ini, yakni mampu  menarik beragam jenis penyerbuk. Nektar bunganya yang manis menarik kupu-kupu, lebah dan bahkan burung kolibri, sehingga mampu meningkatkan kehati (keanekaragaman hayati).

Meningkatnya aktivitas penyerbuk,  dapat meningkatkan pula kesehatan tanaman lain di sekitarnya, sehingga menghasilkan ekosistem yang lebih kuat dan berkembang.

Selain itu, manfaat unik lainnya adalah dedaunannya yang padat dapat menjadi rumah yang sangat ramah bagi burung kecil dan serangga.  

Apalagi menanam tanaman ini cukup mudah, selain kacoa atau gampang tumbuh, perawatannya pun super minim, sebab cukup tahan cuaca kering setelah mapan, juga dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah, sehingga kurang menuntut dalam hal penyiraman dan persiapan tanah.

Sedangkan dengan pemangkasan yang teratur sudah cukup  menjaganya tetap tumbuh subur dan indah.

Tanaman ini juga  mampu beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda  di bawah sinar matahari penuh serta naungan sebagian.

Fleksibilitas ini membuat sobat hijau dapat menanamnya di berbagai bagian taman, tanpa terlalu mengkhawatirkan kondisi cahaya yang spesifik.

Tanaman ini juga  cukup tangguh menghadapi hama dan penyakit, sehingga semakin mengurangi kebutuhan dalam perawatannya.

Sementara manfaatnya untuk kesehatan menurut journalijar, digunakan dalam pengobatan tradisional Filipina. Sementara Tumiir dkk (2021) mengungkapkan, tanaman dari genus Clerodendrum memiliki aktivitas antiinflamasi, termasuk Clerodendrum quadriloculare.

Jadi, apakah sobat hijau tertarik menanamnya lalu membagikan anakannya kepada yang lain, seperti yang dilakukan oleh Ummang?.

Topik terkait
clerodendrum quadriloculare tanaman hias manfaat ekologis tabaya