Melalui Sampah, Fajar Harianto Melahirkan Wajah Baru bagi Kelurahan Baru Kota Makassar
Klikhijau.com - Wajah Kelurahan Baru benar-benar baru. Bukan hanya namanya, tapi juga lingkungan dan perilaku warganya.
Perubahan itu tidak lepas dari sentuhan cinta Fajar Harianto. Ia adalah nahkoda (lurah) di kelurahan yang terletak di Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar Sulawesi Selatan itu.
Sejak dilantik pada Desember 2021 lalu, ia telah mendorong warga dan sekolah untuk melihat sampah bukan sekadar limbah yang harus dibuang dan dianggap menjijikkan, melainkan sebagai sumber daya yang bisa diolah menjadi ladang penghasilan.
Berkat inovasi brilian darinya melalui sebuah gagasan sederhana yang mengajarkan warganya memilah sampah. Gagasan yang dikemudian hari menjadi program pengolahan sampah yang menjanjikan secara ekonomi.
Dengan penuh cinta dan semangat, eks staf Kelurahan Baru itu mengajarkan warganya menyadari jika sampah memiliki nilai lebih, dengan syarat harus dipilah dan diolah dengan benar terlebih dahulu.
"Jadi sampah harus dikenal. Kenapa harus dikenal? Karena beda jenisnya, beda perlakuannya. Itu yang penting. Supaya masyarakat atau anak dari kecil sudah tahu cara mengelolanya," jelasnya saat Klikhijau menemuinya beberapa waktu lalu.
Selain berbeda cara mengolahnya, perbedaan jenis sampah juga berpengaruh pada harganya, semisal sampah plastik dan kertas.
Masuk sekolah
Persoalan lingkungan tidak berhenti hanya pada satu generasi saja, begitupun dengan tanggungjawabnya. Hal ini disadari oleh Fajar. Karenanya, ia berjuang memasukkan pemilahan sampah sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Baginya, tanggungjawab lingkungan, khususnya persoalan sampah mesti ada regenerasi, dan hal itu menjadi salah satu tanggungjawabnya sebagai pemimpin (Lurah) untuk menyiapkan regenerasi itu.
"Tujuan utamanya adalah pendidikan. Membiasakan warga, pelaku usaha, dan anak sekolah memilah sampah sejak dini supaya tidak langsung dibuang ke TPA," urainya dengan mimik serius.
Sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Langkah yang diambil tidak rumit. Anak-anak cukup diajarkan cara memisahkan sampah organik dan anorganik, serta mengenal jenis plastik seperti PET, PP, dan HDPE.
Dari hasil pilahan dikumpulkan di titik tertentu dan anak akan mendapat imbalan kecil, misalnya Rp1.000 sampai padaRp2.000. Cara ini memberi insentif ekonomi sekaligus menanamkan kebiasaan baik kepada generasi pelanjut.
"Apa yang kita lakukan hari ini berguna untuk anak cucu kita nantinya, lingkungan mesti diwariskan dalam keadaan baik," lanjutnya.
Mendirikan TPS3R
Untuk mendukung pengelolaan sampah di wilayah yang dipimpinnya, Fajar mendirikan fasilitas pengolahan sampah mirip TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah 3R) di Kelurahan Baru.
Melalui fasilitas itulah, warga membuat kompos dan membudidayakan maggot (larva lalat, termasuk BSF). Maggot "mengolah" sampah organik menjadi mesin pengepul asap dapur.
Maggot kemudian menghasilkan larva maggot, pupa, dan telur yang bisa jadi pakan ternak, misalnya untuk ayam dan ikan.
Untuk telur BSF sendiri, nilai jualnya pangsa pasarnya sangat menarik. Sementara itu, daun kering dan sisa tanaman diolah menjadi kompos. Kelurahan seluas 0,21 Km ini panen kompos dalam hitungan ton dan tentu hal itu jadi sumber pemasukan.
Apa yang digagas Fajar tidak hanya melahirkan nilai dan dampak ekonomi, tetapi program memilah sampah juga membawa nilai sosial dan spiritual.
"Sebagai Muslim, saya melihat kerja kecil yang bermanfaat sebagai amal yang kembali kepada keluarga dan komunitas," katanya.
Program pemilahan sampah yang ia cetuskan telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga Kelurahan Baru.
Anak-anak sekolah dan pemuda usia 17 hingga 21 tahun direkrut sebagai pendamping dan tenaga pemilah (pekerja pemilah).
"Ini membantu regenerasi tenaga kerja di kelurahan," ujarnya.
Meski terdengar mulus, namun program ini memiliki tantangan yang tidak kecil, yakni produksi saat ini masih skala kelurahan, hanya ratusan kilogram per hari.
"Tantangan terbesar adalah mencari pasar yang stabil untuk produk seperti telur maggot, larva, kompos, dan pakan," bebernya.
Lebih jauh, Fajar menganalisa bahwa agar program ini berkelanjutan secara finansial, perlu pengembangan rantai nilai, pemasaran, dan mitra yang lebih besar, misalnya industri pembeli dan investor.
Fajar juga bermimpi dapat memperbesar skala produksi dan pemasaran sehingga kelurahan dapat menjadi pemasok andal dan membuka lapangan kerja di wilayah lain.
Apa yang diimpikan Fajar perlahan terwujud. Saat ini dukungan institusi mulai datang, itu pada tahun 2024 hingga 2025 lalu.
Di mana pada saat itu, Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar menambah tenaga pemilah sampah lewat APBD, dan bantuan pendamping TPS3R mulai tersedia.
Selain itu, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, di antaranya Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) serta startup lingkungan untuk menyusun proposal, mengembangkan inovasi, dan mencari pembiayaan.
Hal paling mengagumkan, sebab ada keterlibatan ahli dari luar untuk membantu teknis budidaya maggot dan pemasaran.
"Saya ingin mewariskan sesuatu yang tidak luntur oleh waktu, yakni mewariskan ilmu dengan cara mengajarkan sejumlah orang yang kemudian orang tersebut mengajarkan orang lain, sehingga kebaikan terus bertambah, terus mengalir," harapnya.
Fajar juga mengajak startup, kampus, dan investor untuk bermitra, membantu akses pasar, dan membuat proposal pendanaan agar produk maggot dan turunannya terserap lebih luas.
"Dengan dukungan teknis dan pasar, program pengelolaan sampah ini bisa berkembang menjadi industri hijau lokal yang memberi manfaat lingkungan dan ekonomi," tutupnya.
Apa yang dilakukan Fajar Harianto bukan sekadar mengajak warganya memilah sampah, lebih dalam dari itu, sebuah effort menjaga lingkungan agar bisa diwariskan ke generasi selanjutnya dalam kondisi yang baik.