Mata Sulida

Gelisah merajamnya. Naik ke Lompobattang adalah mimpi yang akan tiba dalam nyatanya meski ketakutan membatu di hatinya. Telah banyak ia dengar bila tingkat keangkeran Lompobattang lebih mengerikan dar...

Mata Sulida
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Gelisah merajamnya. Naik ke Lompobattang adalah mimpi yang akan tiba dalam nyatanya meski ketakutan membatu di hatinya. Telah banyak ia dengar bila tingkat keangkeran Lompobattang lebih mengerikan daripada Bawakaraeng. Menurut banyak orang, Lompobattang adalah perempuan. Perempuan lebih sensitif dari lelaki.

Lalu hari itu, hari yang membuat jantungnya serasa palpitasi. Hari di mana ia harus ke Gunung Lompobattang, menikmati tualang kecilnya. Maka, sekali saja ia menoleh ke arah perempuan yang dipanggilnya ibu, langkahnya kemudian terayun perlahan ditelan pepohonan di setapak itu—jalan menuju romang ‘hutan’ untuk mencari madu.

Musim kemarau, waktu paling tepat mencari madu yang akan di jual ke pasar. Hasil penjualan itu akan pakai membeli bibit cengkih dan kopi. Dua komoditi andalan di kampungnya. Namun, kali ini ia bertekad bukan hanya untuk membeli keduanya, tapi juga ingin membelikan ibunya panci yang memakai dandang, di kampungnya namanya langsang—panci yang bisa dipakai mengukus makanan.

Ibunya telah lama menumpuk keinginan itu—memiliki panci yang bisa menghasilkan songkolo, ‘beras ketan yang dikukus’. Hatinya selalu sesak setiap melihat ibunya meminjam langsang dari tetangga.

Sementara ayahnya lebih banyak abai, lebih memilih menghidupi istri kedua dan ketiganya. Acap ia pikirkan akan melampaui pencapaian ayahnya, yang hanya memiliki tiga istri.

Ia ingin memiliki empat atau lima istri. Jika itu tercapai, ia bisa menepuk dada di hadapan ayahnya. Sebab ia bisa mengalahkan lelaki yang angkuh itu. Membayangkannya saja, hatinya telah girang, bagaimana jika benar-benar terwujud?

Ia juga bayangkan, jika kemarau telah hijrah pada entah yang tak bisa ditebak, dan musim basah turun, makan songkolo akan jadi pelipur dingin dan sepi yang sempurna. Pare pulu’ ‘beras ketan’ tak usah dibeli, sebab sawahnya bisa menghasilkan panen enam karung sekali panen pare pulu’

*****

“Bekal ini cukup seminggu,” terka ibunya sambil mengemasi lappa’ ‘nasi jagung yang dibungkus daun jagung’ “ini tahan basi,” lanjutnya.

Besoknya ia bersama Puang Tangka, pamannya serta dua sepupunya berangkat ke romang. Mendaki gunung Lompobattang. Semua itu dilakukan demi panci, demi cinta pada ibunya.

Tak ada alasan baginya bermalas-malasan, apalagi tahun depan ia akan dinikahkan dengan Sulida, anak kedua Puang Baska. Perempuan dari dusun seberang.

Ayahnya dan ayah Sulida berteman karib dan memiliki perangai yang sama—memiliki tiga istri. Ia tak mungkin abai pernikahan itu. Lagi pula dirinya tak menampik jika cinta bertunas di hatinya untuk Sulida lebih dari apa pun. Jika membayangkan Sulida, kelelakiannya acap berontak.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2