Masa Depan dan Tantangan Baru Pendidikan Lingkungan di Sekolah
Klikhijau.com – Pendidikan lingkungan kini semakin progresif di sekolah-sekolah. Saya melihat itu saat berkunjung ke beberapa sekolah. Ada harapan besar di sana, bertumbuhnya generasi baru yang lebih...
Klikhijau.com – Pendidikan lingkungan kini semakin progresif di sekolah-sekolah. Saya melihat itu saat berkunjung ke beberapa sekolah. Ada harapan besar di sana, bertumbuhnya generasi baru yang lebih respek pada kepentingan lingkungan.
Lihat saja, sekolah-sekolah yang halamannya rindang dengan pepohonan, tempat sampah yang memadai, daur ulang sampah dan lainnya. Sepintas, sekolah-sekolah itu seperti miniatur implementasi kehidupan yang ramah lingkungan.
Realitas semacam ini tampak di hampir setiap sekolah. Tidak saja pada sekolah di kota, tetapi juga di pelosok. Apakah ini berjalan alami karena kesadaran kuat bahwa sekolah adalah arena terbaik untuk doktrinasi peduli lingkungan? Atau jangan-jangan semata-mata karena mengejar Adiwiyata?
Rasanya tak bisa disangkal, program Adiwiyata telah berkontribusi terhadap perubahan besar di sekolah. Dahulu, sekolah yang rindang dengan pepohonan dan tanaman yang terawat hanya dibuat untuk menerapkan sekolah bersih nan indah, sejak ada Program Adiwiyata orientasinya lebih luas lagi yakni bagaimana sekolah mewujudkan lingkungan hidup berkelanjutan.
Tak lagi sekadar bersih, rindang dengan taman-tamannya yang dipersolek, sekolah juga harus menerapkan sistem pengelolaan sampah, fasilitas cuci tangan, pemanfaatan sampah plastik dan lainnya.
[irp]
Senam cuci tangan SD Komplek Borong/Foto-Ist[/caption]
Tentu bukan perkara mudah. Anak-anak di sekolah masih harus berhadapan dengan dunia nyata antara lain: aktivitas buang sampah sembarangan di mana-mana, sungai-sungai dan lautan yang disesaki sampah plastik, juga pasar-pasar yang dikepung plastik sekali pakai.
Ini paradoks yang akan membuat anak-anak mengalami “cultural shock”. Apa yang diajarkan di sekolah tak linear dengan realitas yang tampak di kehidupan sosial. Oleh sebab itu, pendidikan lingkungan di sekolah juga harus mendiskusikan soal realitas sosial yang terjadi dan bagaimana mengambil peran di dalamnya.
Ini tantangan serius, kita berharap anak-anak di sekolah tak melegitimasi realitas yang dilihatnya. Juga tidak menganggap praktik ramah lingkungan di sekolah sekadar ritus sebatas di sekolah saja. Apalagi kalau sampai mereka melihat adanya aksi-aksi “memaksakan” penerapan sekolah ramah lingkungan demi label Adiwiyata.
Maka, selain di sekolah, anak-anak juga harus tercerahkan dari rumah. Penerapan sekolah ramah lingkungan harus diterapkan sepenuh hati agar sungguh-sungguh mengedukasi dan memberi jawaban kritis mengapa kita harus menerapkan gaya hidup ramah lingkungan?
Ini penting agar pembelajaran lingkungan para siswa di sekolah, tidak terancam sirna saat berhadapan dengan kehidupan nyata yang bebal.
[irp]