Klikhijau.com – Manfaat kayu secang tidak diragukan lagi. Di beberapa daerah, kayu satu ini kerap dijumpai sebagai bahan minuman. Di Jawa, kayu secang diolah menjadi minuman wedang. Ada pula yang mera...
Klikhijau.com – Manfaat
kayu secang tidak diragukan lagi. Di beberapa daerah, kayu satu ini kerap dijumpai sebagai bahan minuman. Di Jawa, kayu secang diolah menjadi minuman wedang. Ada pula yang meraciknya menjadi sirup dengan aroma khas. Atau sekadar pewarna pada air minum sehari-hari.
Bukan tanpa alasan, kayu secang memang memiliki manfaat istimewa. Karenanya, secang dikenal sebagai satu jenis tumbuhan herbal yang mengandung senyawa penting yakni
flavonoid dan terpenoid sebagai anti oksidan. Secang juga melekat pada tradisi budaya nusantara yakni pemanfaatan bahan alami secara turun-temurun.
Nah, berikut ini kami merangkum setidaknya ada 5 fakta menarik perihal tumbuhan herbal ini yang penting Anda ketahui.
Asal mula dan sebarannya
Dalam berbagai jurnal ilmiah dituliskan bahwa kayu secang pertama kali ditemukan oleh seorang bernama Kimichi (seorang berkebangsaan Spanyol) di Brazil. Itulah sebabnya, tanaman ini familiar disebut ‘kayu Brazil’
(Brazil wood).
Walau begitu, ada pula yang mengatakan bahwa Secang berasal dari India melalui Burma, Thailand, Indo China sampai Malaysia. Lalu menyebar ke Indonesia, Philipina, Taiwan dan Hawai. Uniknya, tanaman ini justru tumbuh subur paling massif di Eropa, Amerika dan Asia.
[irp]
Nama Ilmiahnya
Nama ilmiahnya adalah
Caesalpinia sappan. Di berbagai negara, Secang disematkan nama yang berbeda-beda. Di Thailand disebut ‘faang’, di Philipina bernama ‘Sibukao’ dan di Laos disebut ‘fang deeng’.
Beda nama di setiap daerah di Indonesia
Karena dikenal luas dan dimanfaatkan hampir semua wilayah di nusantara, Secang dijumpai dengan nama-nama berbeda pula di tiap daerah. Di Aceh dinamai
seupeng, supa atau
suang di Bima,
sunyiha di Ternate,
kayu sema di Manado dan
soga jawa di Jawa. Di daerah Bugis disebut
seppang, suku Makassar menyebutnya
sappang.
Ciri khasnya
Kayu secang dapat dijumpai di daerah tropis di ketinggian 500-1000 m dpl. Pohonnya dapat menjulang antara 5-10 meter. Batangnya berkayu, berbentuk bulat dan berwarna hijau kecoklatan. Pada batangnya, terdapat duri-duri tempel yang bentuknya bengkok dan letaknya menyebar. Kayu secang memiliki akar tunggang berwarna cokelat, sedangkan daunnya bentuk majemuk menyirip ganda. Panjang daun 25-40 cm (Hariana, 2006).
Selain herbal juga pewarna alami
Bagian vegetatif tumbuhan secang ternyata dapat digunakan sebagai pewarna alami. Bagian batang, kulit dan polong dapat menghasilkan warna merah dan ungu muda. Sedangkan akarnya dapat menghasilkan warna kuning.
Sahabat hijau, itulah perkenalan singkat dengan kayu secang, di sesi yang lain akan dibahas manfaat ajaibnya bagi kesehatan.
[irp]