Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Tips Hijau dan Gaya Hidup

Lulur Pengantin Kaili, Cara Nelam Bangkitkan Ketan Hitam Sigi Tanpa Sampah

Oleh Arman Jaya 10 Sep 2026 23:46 3 menit baca

Klikhijau.com - Ancaman hilangnya pasar bagi tanaman pangan lokal perlahan membayangi para petani ketan hitam di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ketidakpastian permintaan membuat minat menanam komoditas ini terus merosot. Padahal bagi masyarakat suku Kaili, ketan hitam bukan hanya bahan pangan, tapi bagian penting dalam badabida, lulur tradisional yang biasa digunakan untuk merawat tubuh calon pengantin perempuan.

Di tengah ancaman punahnya tradisi dan pasar komoditas lokal tersebut, Nelam Ayu Kusuma hadir memberi jawaban. Melalui usaha perawatan tubuh berbahan alami bernama Nelamayu Tradisional yang dirintisnya sejak 2018, Nelam menciptakan permintaan baru bagi hasil panen ketan hitam dari petani di wilayah Dolo Barat, Sigi.

Nelam mengolah ketan hitam menjadi body scrub modern tanpa meninggalkan akar budayanya. Kehadiran pembeli lokal seperti Nelam memberikan kepastian bagi petani bahwa hasil jerih payah mereka masih memiliki pasar yang menghidupi.

"Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili," kata Nelam.

Inspirasi usaha Nelam tidak hanya berhenti pada badabida. Ia juga memproduksi bada kumba, racikan bedak dingin yang pengetahuannya diwariskan oleh sang nenek.

Pada masa pendudukan Jepang, nenek Nelam dikenal sebagai perawat herbal kampung yang meracik obat-obatan alami dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan rempah-rempah saat akses obat-obatan modern sangat terbatas.

Pengetahuan turun-temurun inilah yang kini dikembangkan Nelam untuk merawat kulit sekaligus menjaga keberlanjutan tanaman rempah lokal.

Uniknya, proses produksi Nelamayu Tradisional menerapkan prinsip minim limbah. Dedak beras hasil penggilingan disalurkan kembali ke petani untuk pakan ternak. Sementara itu, abu hasil proses sangrai dimanfaatkan sebagai abu gosok rumah tangga yang dijual seharga Rp5.000 per kantong. Sisa produksi yang biasanya menjadi sampah kini memiliki nilai guna dan nilai ekonomi baru.

 

Pendekatan tata kelola usaha yang memperhatikan asal-usul bahan baku hingga pengolahan limbah ini membawa Nelamayu Tradisional lolos dalam program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023.

"Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin memastikan produk-produk seperti Nelamayu Tradisional bisa tumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan nilai budaya dan lingkungan," tutur Perwakilan Gampiri Interaksi Lestari, Nedya Sinintha Maulaning.

Nedya menegaskan bahwa keberlanjutan ekonomi daerah berakar pada keseimbangan antara alam dan keterlibatan masyarakat.

"Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi," lanjutnya.

Selama enam bulan masa pendampingan, Nelam mendapatkan pelatihan kelembagaan, perizinan, pengembangan produk, hingga akses pemasaran. Melalui ajang Business and Partnership Matching, Nelamayu Tradisional dipertemukan dengan 20 calon mitra bisnis.

 

Kini, jangkauan pemasaran Nelamayu Tradisional telah meluas hingga ke Palu, Parigi, Poso, dan Morowali melalui penjualan daring, jaringan reseller, serta kemitraan sebagai fasilitas amenities di sejumlah homestay dan penginapan lokal.

Nelamayu Tradisional merupakan satu dari 74 pelaku usaha lokal yang terhimpun dalam program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari, yang terdiri dari 64 tenant Gampiri Inkubasi Usaha Lestari dan 10 tenant Koperasi Growth. Inisiatif ini disokong oleh Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), asosiasi pemerintah kabupaten yang berfokus pada dorongan model ekonomi restoratif, pembangunan yang menempatkan kelestarian alam dan kesejahteraan warga sebagai tumpuan utama.

Meski skala produksinya masih terus berkembang, langkah Nelam membuktikan bahwa praktik ekonomi ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar. Ekonomi restoratif dapat tumbuh dari langkah nyata di dapur produksi, membeli hasil tani tetangga, mengolah sumber daya secara bijak, dan memastikan tidak ada sisa produksi yang terbuang sia-sia.

"Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung," pungkas Nelam.

Topik terkait
Ketan Hitam pangan lokal petani lulur tradisional