Lahir di Momen Lebaran, Bayi Orangutan di TSI Cisarua Diberi Nama Fitri
Klikhijau.com – Bayi orangutan betina lahir pada momen hari raya Idul Fitri di Taman Safari Indonesia (TSI) Cirarua Bogor. Karena bertepatan dengan momen lebaran idul fitri, bayi mungil itu pun diberi...
Klikhijau.com – Bayi orangutan betina lahir pada momen hari raya Idul Fitri di Taman Safari Indonesia (TSI) Cirarua Bogor. Karena bertepatan dengan momen lebaran idul fitri, bayi mungil itu pun diberi nama terbaik yakni Fitri.
Kelahirannya juga bertepatan dengan momentum Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei.
"Alhamdulillah, di hari bahagia Idul Fitri sekaligus prihatin dengan situasi pandemi COVID-19, telah lahir jam 05.00 WIB bayi orangutan betina,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya di Jakarta, Senin 25 Mei 2020.
"Bayi orangutan ini merupakan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung. Mengingat kelahirannya masih dalam suasana hari raya Idul Fitri, saya menamakan bayi orangutan ini dengan nama Fitri," lanjut Menteri Siti.
[irp]
Kelahiran Fitri melengkapi kebahagiaan, karena pada bulan lalu 28 April 2020, seekor anakan gajah juga lahir di TSI Bogor. Anakan gajah ini diberi nama Covid lantaran lahir pada saat dunia mengalami pandemi COVID-19.
Selama penutupan Lembaga Konservasi (LK) dan berlangsungnya Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak satwa yang lahir di LK antara lain Gajah Sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta.
Lahir pula komodo (12 ekor), burung Kasturi Raja (1 ekor), orangutan Fitri di TSI Cisarua. Tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, Kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park di Sumatera Utara, serta satwa-satwa eksotik lainnya seperti Jerapah, Zebra dan common marmoset.
Ini menandakan bahwa pengelola LK telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik, sehingga satwa dapat berkembangbiak secara alami dan telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat dengan tetap mempertahankan kemurnian genetiknya.
[irp]
"Diharapkan melalui program breeding terkontrol ini, program konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai", ujar Menteri Siti.