Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Kursi Lalu Tanah

Kursi Lalu Tanah   pagi ketuki mata yang mengantuk gerah rampas lelap semalam bersama dengung nyamuk di telinga subuh tiba, lelap pun baru hinggap paginya, tergesalah aku bangun gerah...

Oleh Irhyl R Makkatutu 02 May 2021 05:00 3 menit baca

Kursi Lalu Tanah

  pagi ketuki mata yang mengantuk gerah rampas lelap semalam bersama dengung nyamuk di telinga subuh tiba, lelap pun baru hinggap paginya, tergesalah aku bangun gerah kembali tiba di kamar menggeledah tiap incinya keluarkan semua keringat di pori padahal pagi masih belia gerah mulai temukan kampung kecil kita di malam hari, di semua waktu saat matahari bahkan sedang lelap kita mencurigai satu sebab; pohon belakangan mulai rajin ditebangi kini pohon bisa dihitung tanpa kalkulator dan hujan mulai malas bertamu siang akan lebih terik malam gerah dan pagi, sinar matahari lebih cepat sampai ke kamar mencuri lelap yang didapat jelang subuh ibu mulai melipat selimut tak pernah lagi dikeluarkan dari lemari “selimut tak lagi dibutuhkan,” katanya dan ayah, tak pernah lagi memakai sarung ketika tidur hanya memakai celana bola berlogo barcelona saja pohon-pohon telah berubah lemari, kursi, meja lalu berubah abu lalu kembali tanah tandabaca, 2021 [irp]

Penanda Musim

  aku sedang duduk di balai-balai di bawah pohon sengon yang telah dipangkas jarum jam masih menanjak masih lama hingga magrib aku tatapi pohon cengkih tak berbuah meski musimnya telah tiba kemarin, seorang khatib berujar “rasanya mustahil cengkih tak berbuah padahal sudah waktunya,” ia curiga ada warga tak jujur aku ingin berujar, karena perubahan iklim tapi di khotbah jumat jemaah tak boleh berpendapat musim sekarang seperti anak kecil susah diprediksi maunya pedoman orang-orang dulu tak lagi berkhasiat segala penanda kemarau dan musih hujan berantakan tandabaca, 2021 [irp]  

Saluran Air Depan Rumahmu

  di facebook kau bertanya tentang penyedot saluran yang tersumbah di depan rumahmu lalu meluap membawa segala jenis sampah rumahmu berubah pasar—segala jenis barang tersedia aku bertanya, apa penyebabnya? banyak sampah, katamu aku tak jadi menawarkan diri sampah adalah kita kita adalah sampah dan saluran adalah kebencian kita kita lupa lupa kita sampah dari kita dan untuk kita sejam setelah postinganmu dua orang menyukainya tiga orang memberi komentar “up” hanya aku yang bertanya Kindang, 2021 [irp]

Senapan Angin

  sejak kau membeli senapan angin, sayang aku selalu menanti pulangmu membawa burung akan kutumis untuk santap malammu sejak kau membeli senapan angin, sayang aku merasa sepi menerkam-nerkam tak ada lagi kicau jarolli terdengar di belakang rumah ......apa kau juga menembaknya....? tapi kenapa tak membawanya pulang? sejak senapan angin mulai dimiliki warga, sayang hama-hama juga mulai menyerang tanaman apakah kau menyebarkannya? atau burung-burung pemakan hama itu kau juga menembaknya? setiap kau keluar rumah menenteng senapan angin aku selalu menanti was-was takut burung yang kau buru aku masak tak sesuai seleramu lalu kau tembak pula kepalaku seperti kau membidik burung kampung kita, sayang mulai sepi dari kicau burung sejak kau membeli senapan angin apa kau menembak semuanya? Kindang, 2021 [irp]

Apa Harus

  dan hutan telah menipis di mata kita rumah hanya hijau oleh cat tembok pohon pindah ke dinding diantar pelukis ke mana kita mesti lari dari gerah? apa harus ke gunung yang telah alpa menumbuhkan pohon? atau ke kamar mandi yang kehabisan air? tandabaca, 15 Maret 2021 Tentang Penulis: I.R Makkatutu lahir di Desa Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) Sulawesi Selatan. Alumni Bahasa dan Sastra Unismuh Makassar . Lelaki Gerimis (2015) dan Tetirah,yang berjalan dari dan kepada cinta (2017) adalah dua kumcer yang telah diterbitkan. [irp]
Topik terkait
#puisi #sastra hijau #ekologi sastra #sastra ekologis #sastra dan lingkungan