Konsolidasi Akar Rumput, Benteng Terakhir Penyelamat Ruang Hidup

Klikhijau.com - Kepungan sistematis deforestasi, reklamasi, hingga masifnya penggusuran dan penyerobotan lahan di berbagai daerah, kedaulatan warga atas tanahnya kini berada di titik nadir. Saat ke...

Konsolidasi Akar Rumput, Benteng Terakhir Penyelamat Ruang Hidup
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kepungan sistematis deforestasi, reklamasi, hingga masifnya penggusuran dan penyerobotan lahan di berbagai daerah, kedaulatan warga atas tanahnya kini berada di titik nadir.

Saat kebijakan pembangunan kian agresif menggilas hak-hak dasar, tidak ada lagi ruang untuk kompromi yang semu. Konsolidasi akar rumput yang muncul adalah benteng terakhir, sebuah garis pertahanan pamungkas untuk merebut kembali ruang hidup yang kian menyempit sebelum lumat sepenuhnya oleh ambisi pasar.

Seringkali, saat kita bicara soal kerusakan lingkungan seperti banjir yang makin sering mampir, polusi udara yang mencekik, atau hutan yang perlahan gundul, kita langsung menunjuk hidung pemerintah atau perusahaan besar sebagai biang keladinya. Memang benar, kebijakan makro punya andil besar.

Namun, ada satu mata rantai yang sering terlupakan dalam percakapan kita sehari-hari, tingkat tapak.

Tingkat tapak adalah garis depan di lapangan, tempat di mana masyarakat bersentuhan langsung dengan tanah, air, dan udara, bisa itu di pelosok desa, perkampungan nelayan di pesisir, hingga wilayah adat di jantung hutan.

Persoalannya, mengapa konsolidasi atau penguatan organisasi di level paling bawah ini begitu krusial? Jawabannya sederhana namun mendalam, tanpa kekuatan di akar rumput, kebijakan lingkungan yang paling progresif sekalipun hanya akan berakhir menjadi macan kertas di atas meja birokrasi.

Jika kita menengok sejarah pemikiran ekonomi lingkungan, ada istilah terkenal bernama Tragedy of the Commons yang dipopulerkan oleh Garrett Hardin pada tahun 1968.

Premisnya cukup suram, Hardin berpendapat bahwa jika sumber daya alam dibiarkan tanpa pengelolaan kolektif yang ketat, setiap individu akan cenderung mengeksploitasinya demi keuntungan pribadi sampai sumber daya itu habis tak bersisa.

Komunitas Masyarakat Lokal Pemegang Kedaulatan Penuh

Dari sinilah konsolidasi warga menjadi kunci pemutus kutukan tersebut.
Elinor Ostrom, seorang peraih Nobel Ekonomi, memberikan antitesis yang sangat relevan bagi kita di Indonesia.

Melalui riset mendalamnya, Ostrom membuktikan bahwa masyarakat lokal sebenarnya sangat mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan asalkan mereka memiliki institusi atau pengorganisasian lokal yang kuat.

Konsolidasi di tingkat tapak memastikan adanya "aturan main" yang disepakati bersama secara sukarela. Kita bisa melihat contoh nyata diliteratur, pada tradisi Sasi di Maluku atau Lubuk Larangan di Sumatera.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2