KlikHijau Sambut Mahasiswa Peserta Magang Kampus Berdampak Sosiologi UNM dan HI UINAM
Klikhijau.com - Ruang kerja media lingkungan KlikHijau Makassar kembali riuh oleh energi muda. Tiga mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Makassar (UNM), Nur Adriani, Ulfia Kalsum, dan St. Nashwa Wahdania Azis, bersama dua mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Muhammad Yunus dan Reihan Zainal, secara resmi memulai perjalanan belajar mereka.
Selama satu semester ganjil atau setara 900 jam kerja, para mahasiswa ini tidak hanya datang untuk memindahkan ruang kuliah ke meja kerja media, melainkan terjun langsung mengurai kerumitan isu lingkungan di Sulawesi Selatan.
Penerimaan resmi yang berlangsung hangat , ditrima langsung oleh Direktur KlikHijau, Anis Kurniawan, serta jajaran Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dari UNM, Bahrul Amsal dan Alwi Usra Usman. Pertemuan tersebut adalah kolaborasi berkelanjutan yang sudah lama terljalin, aksi dalam skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) kali ini memadukan dua jalur pembelajaran yakni magang reguler dan proyek kemanusiaan berbasis komunitas.
Menembus Batas Teori melalui Aksi Nyata
Menghadapi tantangan ekologis yang kian kompleks, metode belajar konvensional di dalam kelas sering kali tak cukup untuk memberi gambaran utuh. Melalui kolaborasi ini, keilmuan sosiologi dan hubungan internasional diuji langsung di lapangan. Mahasiswa tidak sekadar diperkenalkan pada kerja-kerja jurnalistik, tetapi juga diajak memahami bagaimana kebijakan publik, dinamika sosial, dan krisis lingkungan saling bertaut.
Dosen Pembimbing Lapangan dari Sosiologi UNM, Bahrul Amsal, menyoroti bagaimana setiap mahasiswa membawa dorongan belajar yang otentik. Ada yang tergerak karena ingin mengasah kemampuan menulis naratif, ada pula yang dibekali keberanian berdiskusi untuk mengurai persoalan warga.
“Pilihan mereka di KlikHijau didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat. Karakteristik organisasi di sini berbeda dengan tempat lain. Ada kultur kerja yang menuntut fleksibilitas sekaligus kedalaman berpikir. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk menguji kapasitas diri sebelum benar-benar melangkah ke dunia kerja profesional,” ujar Bahrul.
Pendekatan berbeda juga diterapkan melalui skema proyek kemanusiaan. Alwi Usra Usman menjelaskan bahwa mahasiswa yang mengambil jalur ini tidak datang dengan tangan kosong. Sebelum penerjun lapangan, mereka telah dibekali penyusunan rancangan program dan pengelolaan anggaran secara mandiri.
“Kami merancang program ini agar ada keberlanjutan. Mahasiswa diajak melakukan observasi awal, meriset persoalan secara partisipatif, hingga mempresentasikan solusinya. Harapannya, pengalaman 900 jam ini bisa bermuara pada karya akademik atau riset skripsi yang mengakar pada kebutuhan riil masyarakat,” tutur Alwi.
Ekosistem Pembelajaran yang Membumi
Sebagai media independen yang juga berjejaring dalam Society of Environmental Journalists (SEJ) dan Koalisi Media Alternatif (KOMA), KlikHijau menempatkan kerja naratif beriringan dengan aksi tapak. Direktur KlikHijau, Anis Kurniawan, menekankan pentingnya membangun ruang aman (holding space) bagi mahasiswa untuk bereksplorasi secara merdeka.
Di KlikHijau, para peserta magang akan berhadapan langsung dengan pelbagai realita isu ekologi. Mulai dari pengawasan kebijakan pemilahan sampah di perkotaan, kampanye konservasi kawasan mangrove, hingga pendampingan komunitas pengolah limbah dengan serangkaian kompleksitasnya.
Proses ini sengaja dirancang tanpa memacu peserta. Kedepan mereka diajak mengelola program bersama dari nol, menganalisis ketersediaan sumber daya, hingga membangun keterhubungan emosional dengan warga pendampingan.
“Kerja-kerja ekologi membutuhkan determinasi yang kuat. Di sini, mahasiswa diberikan kebebasan bergagasan dan memimpin program. Namun, kebebasan itu berbanding lurus dengan tanggung jawab. Kami ingin membangun rasa percaya diri dan ketahanan mental, agar mereka terbiasa menyelesaikan masalah secara rasional dan berkolaborasi dengan banyak pihak,” tegas Anis.
Kedekatan emosional dan keterbukaan menjadi fondasi utama dalam ekosistem belajar ini. Proses bimbingan tidak hanya berlangsung kaku di balik meja rapat, melainkan cair dalam dialog sehari-hari, refleksi jurnal harian, serta kerja-kerja lapangan yang dinamis.
Merawat Harapan dari Aksi Lokal
Langkah awal lima mahasiswa ini menjadi cermin kecil dari arah baru pendidikan tinggi yang kian membumi, menempatkan mahasiswa lebih dekat dengan realitas tantangan sosial di masyarakat. Displin ilmu dan trori sosial dan internasional tidak lagi sebatas wacana di lembar kertas akademik, melainkan diuji untuk membaca persoalan sampah, kelestarian pesisir, dan keadilan lingkungan di sekitar kita.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa pemulihan lingkungan tidak pernah bergantung pada satu aksi besar yang terisolasi, melainkan pada konsistensi jaringan warga, akademisi, dan media yang saling menopang. Dari ruang-ruang belajar yang inklusif inilah, benih-benih komunikator lingkungan yang tangguh sedang disemaikan—siap membawa perubahan nyata bagi ekosistem dan masyarakat luas.