Kisah Pengalaman Pertama Bertamu ke Hutan
Klikhijau.com - Tidak ada yang langsung kedua, ketiga dan seterusnya. Semuanya diawali oleh “pertama’. Hal itu juga berlaku pada pengalaman bertamu (mengunjungi) hutan. Minggu, 3 November 2023 lalu...
Klikhijau.com - Tidak ada yang langsung kedua, ketiga dan seterusnya. Semuanya diawali oleh “pertama’. Hal itu juga berlaku pada pengalaman bertamu (mengunjungi) hutan.
Minggu, 3 November 2023 lalu. Saya mencatatkan pengalaman pertama memasuki hutan. Hutan di kampung saya memiliki dua nama lokal; borong dan romang.
Ada dua istilah pula saat mengunjungi hutan; naik ke hutan dan masuk ke hutan. Naik, menunjukkan jika hutan berada di atas ketinggian atau gunung. Dan masuk hutan berarti memasuki hutan.
Sebenarnya, jauh sebelum saya menemukan pengalaman pertama itu, cerita tentang hutan telah tertanam di pikiran dan ingatan. Termasuk hal-hal mistik yang menyertainya.
Suasana saat istirahat melepas lelah-foto/Ist[/caption]
[irp]
Rasa penasaran saya tentang hutan pun telah lama bertumbuh. Hanya kesempatan tidak pernah datang mendekat. Hingga pada hari Minggu 19 November 2023 lalu, saya bertemu Puang/Pung Mili di rumahnya. Lelaki yang lahir tepat saat Pemilihan Umum (Pemilu) pertama Indonesia digelar itu adalah "penjelajah" hutan yang cukup handal. Kaya dengan pengalaman. Ketika saya menyampaikan keinginan untuk “bertamu” ke hutan. Ia menyanggupi mengawani. Maka, di hari Minggu itu, berangkatlah kami ke hutan. Kami hanya berempat saja, saya, Puang Mili, Fikar dan Syahrir. Di antara kami berempat, sayalah yang baru pertama kali bersentuhan dengan hutan. Sehari sebelum berangkat, saya telah membeli beberapa bekal untuk cemilan. Ibu juga dengan suka rela membuatkan ketupat lengkap dengan lauknya—ikan goreng dan telur dadar. Jangan membayangkan mengunjungi hutan akan mudah menemukan sumber mata air, sama sekali sulit. Karenanya saya menyiapkan pula air minum. Mengisi penuh tumbler yang memuat 1000 ML air dan itu hampir saja tidak cukup jika saya tidak mencoba menekan "nafsu" untuk minum. Apalagi jarak yang ditempuh kurang lebih 17 kilo meter pulang-pergi (PP). Hal lain yang coba saya siapkan adalah power bank, sepatu boots, kupluk, parang, dan juga mantel atau jas hujan. Jas hujan menjadi penting sebab musim kemarau telah berlalu. Saat musim kemarau mantel bukanlah barang penting untuk dibawa. "Pagi-pagi kita star," kata Syahrir sehari sebelum berangkat. Maka, sejak jam setengah lima subuh di hari Minggu itu, saya telah bangun. Menyiapkan segala sesuatunya. [irp] [caption id="attachment_29991" align="aligncenter" width="650"]Hal-hal pertama yang saya temui
Banyak hal pertama yang saya temui saat memasuki hutan. Suasananya yang sunyi terasa menenangkan. Lumut-lumut yang menggantung pada tetumbuhan dan batu menghadirkan aroma mistik yang kental. Ada banyak hal baru atau pertama saya temui, yakni:-
Pendakian
-
Lumut menggantung pada tetumbuhan
-
Bersih
-
Rotan
-
Pohon tinggi menjulang
-
Jalan empuk
-
Pohon tumbang dibiarkan saja
-
Sungai kering
-
Banyak selokan
-
Feses anoa
-
Pongko rotan
-
Ragam pohon