Kenalkan! Solusi Sampah Rumah Tangga yang Bernama Ekonomi Sirkular

Klikhijau.com – Tanggal 21 Februari, setiap tahun. Menjadi hari yang istimewa bagi “sampah”, termasuk sampah rumah tangga.  Sebab di tanggal itu diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional atau HP...

Kenalkan! Solusi  Sampah Rumah Tangga yang Bernama Ekonomi Sirkular
Bacakan Artikel

Mindset ini harus dituangkan dalam strategi penangan permasalahan sampah di tingkat nasional, yang memerlukan dukungan dari semua lini, termasuk lintas  sektoral. Bersama kementerian lain, KLHK bisa menangkap dan menindak lanjuti pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik  Indonesia, Airlanggga Hartanto di 2021 lalu bahwa konsep ekonomi sirkular bukan hanya pengelolaan limbah, tetapi juga selanjutnya menggunakan proses produksi, di mana bahan baku dapat digunakan berulang-ulang, sehingga tentu akan terjadi saving  yang besar terutama untuk sumber daya alam.

Airlangga menambahkan bahwa secara jangka panjang, ekonomi sirkular akan memberikontribusi pada upaya pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

“Semangat ekonomi sirkular sudah dipahami oleh banyak elemen dan pemangku kepentingan dan bisa diturunkan menjadi strategi nasional. Tentu hal ini memerlukan  proses yang lebih lama dari 1 tahun.  Jika dirasa belum selesai, tema tahun 2022 bisa diteruskan di tahun-tahun selanjutnya. Harus di akui bahwa Indonesia darurat sampah, dan program yang dijalankan sampai sekarang belum bisa memberikan hasil yang maksimal,” tambah  Rika.

Terobosan KEHATI

Pada tahun 2019-2021, Yayasan KEHATI sendiri bersama mitra pernah menjalankan program Revive Citarum untuk mendukung Program Citarum Harum pemerintah dalam mengatasi permasalahan limbah Sungai Citarum. Pendekatan yang dilakukan oleh KEHATI, yaitu pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Hal ini berdasarkan data bahwa mayoritas sumber pencemar  Sungai Citarum adalah limbah domestik (60%).

Sisanya berasal dari limbah industri (30%) dan limbah peternakan/pertanian (10%). Yayasan KEHATI mendorong beberapa komunitas di Desa Bojong sari untuk menjalankan kegiatan pengelolaan sampah warga.

Beberapa kegiatan yang dilakukannya itu pengomposan sampah organik, budidaya maggot Black Soldier Fly, dan pembuatan kerajinan tangan dari sampah plastik. Tidak hanya membantu mengurangi pencemaran Sungai Citarum, program yang dilakukan menjadi penambah sumber penghasilan komunitas  yang  ada dari penjualan pupuk dan larva sebagai pakan ikan dan unggas.

Selain itu, masyarakat yang memilah dan mengirimkan sampah organik ke komunitas pengelolaan sampah pun mendapatkan manfaatnya. Masyarakat terkadang mendapatkan pupuk, buah, dan ikan gratis dari hasil kebun dan ternak ikan yang dikelola komunitas.

“Masalah sampah Indonesia berpacu dengan waktu. Solusi yang ditawarkan harus lebih besar dari sampah yang dihasilkan.  Berkaca kepada negara-negara yang sukses dalam pengelolaan sampah, strategi yang dijalankan harus komprehensif antara pemerintah pusat dalam hal ini kementerian, dengan kepala daerah, dan masyarakat, yang didukung oleh elemen lain seperti perusahaan, terutama yang tercatat sebagai penghasil limbah yang besar,” tutup Rika. ***

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2