Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Jenggala Gelar Eco-Cinema, Soroti Ancaman Fast Fashion dan Mikroplastik di Sungai Indonesia

Klikhijau.com - Industri fesyen yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir menyisakan persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Di balik tren pakaian murah dan cepat berganti, terdap...

Oleh Tim Redaksi 21 Jun 2026 13:49 5 menit baca
Klikhijau.com - Industri fesyen yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir menyisakan persoalan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Di balik tren pakaian murah dan cepat berganti, terdapat jejak pencemaran yang berkontribusi terhadap meningkatnya sampah tekstil dan penyebaran mikroplastik di lingkungan. Persoalan tersebut menjadi tema utama dalam kegiatan Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi yang diselenggarakan oleh Jenggala (Jejaring Jaga Alam) di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (21/6/2026). Kegiatan yang dihadiri oleh 70 orang dari kalangan pelajar, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum itu diawali dengan pemutaran film dokumenter Menolak Punah karya jurnalis Dandhy Laksono dan Aji Yahuti. Film tersebut mengulas dampak industri fast fashion terhadap lingkungan, mulai dari tingginya konsumsi pakaian, meningkatnya timbulan sampah tekstil, hingga ancaman pencemaran mikroplastik yang kini ditemukan hampir di seluruh perairan Indonesia. Usai pemutaran film, peserta mengikuti talkshow yang menghadirkan Kepala Bidang Penataan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Probolinggo Yusdi Afandi, Manajer Kampanye dan Edukasi Ecoton Alaika Rahmatullah, serta Manajer Key Account Ignatius Ian Avianto. [irp] Dalam pemaparannya, Yusdi Afandi menjelaskan bahwa pemerintah telah memiliki instrumen kebijakan untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Menurutnya, regulasi tersebut bertujuan mendorong produsen agar bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan dari produk maupun kemasannya. Namun, keberhasilan pengurangan sampah tetap membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. "Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja. Diperlukan keterlibatan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi sampah sejak dari sumbernya," ujar Yusdi. Sementara itu, Alaika Rahmatullah menyoroti ancaman mikroplastik yang berasal dari limbah tekstil dan pakaian berbahan sintetis. Ia menjelaskan bahwa serat-serat sintetis yang terlepas saat pakaian dicuci akan terbawa ke saluran air, masuk ke sungai, dan akhirnya bermuara ke laut. [irp] Alaika memaparkan hasil penelitian Ecoton melalui program Ekspedisi Sungai Nusantara tahun 2022, sebuah penelitian yang dilakukan dengan menyusuri sungai-sungai di berbagai wilayah Indonesia untuk mengidentifikasi tingkat pencemaran mikroplastik. "Hasil penelitian menunjukkan bahwa 98 persen sungai di Indonesia telah terkontaminasi mikroplastik. Dari seluruh partikel mikroplastik yang ditemukan, 58 persen diantaranya merupakan mikroplastik jenis fiber atau serat. Yang mengerikan mikroplastik saat ini juga ditemukan di tubuh manusia, bahkan masuk darah, dan otak" kata Alaika. Fiber merupakan serpihan-serpihan halus yang berasal dari bahan tekstil sintetis seperti poliester, nilon, dan akrilik. Serat tersebut tidak mudah terurai secara alami dan dapat bertahan lama di lingkungan perairan. Menurut Alaika, dominasi mikroplastik jenis fiber menunjukkan bahwa industri tekstil dan pola konsumsi masyarakat terhadap baju-baju berbahan poliester yang berkontribusi besar terhadap pencemaran mikroplastik di Indonesia. [irp] "Mikroplastik ini dapat dimakan oleh plankton, ikan, kerang, dan akhirnya juga akan di makan manusia. Artinya mikroplastik telah masuk ke dalam sistem rantai makanan. Ini sangat berbahaya, dan itu bisa memicu kanker, penurunan kesuburan, gangguan sistem hormon, hingga akhirnya semua makhluk hidup diancam kematian dan kepunahan massal di masa depan nanti," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia hingga kini masih menghadapi persoalan masuknya sampah impor yang menambah beban pengelolaan sampah nasional. Karena itu, menurut Alaika, penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari sumbernya dengan mengurangi konsumsi plastik sekali pakai dan menghindari budaya fast fashion yang mendorong konsumsi berlebihan. "Kita harus mulai mengurangi sampah sejak dari rumah. Kurangi penggunaan plastik, gunakan barang lebih lama, dan hindari membeli pakaian hanya karena mengikuti tren sesaat," katanya. [irp] Dari sisi industri, Ignatius Ian Avianto menegaskan pentingnya pengawasan terhadap kepatuhan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan. Menurutnya, perusahaan memiliki posisi strategis untuk membangun budaya pengurangan sampah sekaligus memastikan kegiatan usaha berjalan sesuai prinsip keberlanjutan. "Kalau di industri, aspek pengawasan terhadap industri ini sangat penting. Ketaatan terhadap pengelolaan lingkungan sangat tergantung dari bagaimana industri ini diawasi. Industri bisa lebih mudah untuk mengatur pekerjanya dalam pengurangan sampah di lingkungan perusahaan," ujarnya. Igna sapaan akrabnya menambahkan bahwa perusahaan perlu memiliki aturan internal terkait pengurangan dan pemilahan sampah serta menjalankan program tanggung jawab sosial secara berkelanjutan. "Perusahaan juga berperan dalam tanggung jawab sosial. Dan itu harus berkelanjutan. Kami juga selalu mendukung komunitas atau penggerak yang memiliki inisiatif di bidang lingkungan," katanya. [irp] Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya edukasi lingkungan yang terus dilakukan oleh Jenggala. Komunitas yang salah satunya didirikan oleh Ning Umi Hani'ah Fahmi AHZ, sebagai wakil ketua PKK Kabupaten Probolinggo, dan selama ini aktif mengkampanyekan pelestarian lingkungan dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Tidak hanya melalui diskusi dan edukasi publik, Jenggala juga mengembangkan gerakan pengelolaan sampah organik dari tingkat rumah tangga. Melalui program budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), masyarakat diajak mengolah sisa makanan dan sampah organik rumah tangga agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Gerakan tersebut dinilai menjadi salah satu solusi konkret untuk mengurangi timbulan sampah dari sumbernya sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Menutup diskusi, Ignatius Ian Avianto mengajak seluruh peserta untuk kembali menempatkan alam sebagai fondasi kehidupan manusia. "Manusia hidup sejatinya membutuhkan alam dan segala isinya di bumi. Bukan alam atau bumi yang membutuhkan manusia. Jadi jangan semena-mena dan harus tahu diri," ujarnya. Pesan tersebut menjadi penutup reflektif dalam kegiatan Eco-Cinema dan Talkshow Ekologi yang mempertemukan masyarakat, pemerintah, komunitas, dan sektor industri dalam satu ruang dialog. Di tengah meningkatnya ancaman sampah tekstil dan pencemaran mikroplastik, perubahan perilaku konsumsi serta pengelolaan sampah dari sumber dinilai menjadi langkah paling mendasar untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. [irp]
Topik terkait
#plastik sekali pakai #ecoton #edukasi lingkungan #fast fashion #fesyen #pencemaran mikroplastik