Green Life Style Versi penuh
Sastra Hijau

Hutan dari Jendela Masa Depan

Nama Lain dari Puisi   Puisi adalah nama lain dari ketidak-berdayaan Nama lain dari hutan babatan Ladang ilalang dan juga nama lain dari tetes air di matamu Puisi adalah nama lain dari t...

Oleh Nona Reni 10 Dec 2022 12:02 2 menit baca

Nama Lain dari Puisi

  Puisi adalah nama lain dari ketidak-berdayaan Nama lain dari hutan babatan Ladang ilalang dan juga nama lain dari tetes air di matamu Puisi adalah nama lain dari tumbuh-tumbuhan Yang merambati puing-puing kekuasaan Menghinggapi balkon-balkon jabatan Tapi tak mempan dipestisida Puisi nama lain dari dunia Persabahatan yang dijalin di atas suatu kepentingan semata Bukan lagi saling memberi mengaitkan akar 2022 [irp]

Hutan dari Jendela Masa Depan

  Memandang hutan dari jendela masa depan Adalah kekhawatiran yang terus mengganggu Seperti lapar yang tak terpenuhi Yang membawa bibit kebencian Dan dendam yang siap membakar Tanaman palawija hingga kerontang Seperti seorang rohaniawan Aku menghayati suka duka kehidupan mendatang Dengan narasi-narasi puisi yang gemulai Membaca hikmah di balik kekeringan Ranggaskan semua yang tumbuh Aku menahan diri untuk tidak bergetar Mampukah narasi itu menemuimu sebagai oasis panjang Dimana ia akan membuka cadarnya Seperti sebuah pertunjukan akrobat Menjadi filosofis di antara tumpukan hutang yang menggunung Di antara bumi yang semakin gerah Semakin gersang Rampas semua keringat dalam tubuh Des 2022 [irp]

Paru-paru Hidup

  Hari dimulai dengan harapan Dengan sesuatu yang membendung kebimbangan Pikiran jorok yang diluruskan dengan doa Jangan berpikir tentang kesadaran Ia telah terkontaminasi oleh hama asap kendaraan dan bau sampah Tak ada tempat mengais rejeki yang aman Dari takhayul kesuksesan yang menelurkan kecurangan demi kecurangan Kengerian menjadi satu jawaban konyol Kebisingan menyamarkan warna alam yang hijau Bagaimana bisa manusia bertahan seperti ini? Sedang kabut kebohongan menggerogoti paru-paru kehidupan 2022 [irp]

Hujan Mengirim Hukum-hukum

  Kemarin dan besok hujan mengirimkan hukum-hukum penguasa Keteduhan rumah lenyap Dirampas hiruk-pikuk janji Yang tak pernah habis dibagi-bagi Kau sibuk menulis surat-surat berperangkokan air mata Di dalamnya terbungkam jerit rakyat miskin, terlantar dan susah diatur Seperti tiang yang keropos digerogoti keputus-asaan Kesedihan membuat batin ditelikung rasa sesak Matahari telah lelah menyodorkan kebahagiaan Semenjak hutan dan gunung menghilang Kau menghabiskan waktu untuk melamun Abai saja kau pada perut kembung yang melilit Maupun pada anak-anakmu yang dihentakkan oleh lapar berkepanjangan Kemarin dan besok hujan mengirimkan hukum-hukum Merenggut kesakralanmu sebagai manusia Udara kian dipenuhi percakapan basa-basi Mewabah menjadi kupura-puraan Di antara barisan orang-orang tak berdaya. 2022
Topik terkait
#puisi #hutan #puisi lingkungan #puisi dan ekologis #sastra ekologi #jendela