Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Ragam

Hasil Riset Tunjukkan Mangrove Berhasil Dongkrak Bobot Panen Udang di Sulsel

Klikhijau.com - Terobosan besar bagi masa depan pesisir Indonesia tengah tumbuh dari hamparan tambak di Sulawesi Selatan. Kolaborasi riset internasional antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)...

Oleh Arman Jaya 26 Jun 2026 03:07 4 menit baca
Klikhijau.com - Terobosan besar bagi masa depan pesisir Indonesia tengah tumbuh dari hamparan tambak di Sulawesi Selatan. Kolaborasi riset internasional antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan mitra strategis dari Jepang berhasil membuktikan bahwa kelestarian ekologi dan kesejahteraan ekonomi tidak harus saling mengorbankan. Melalui pengembangan sistem silvo-aquaculture berbasis mangrove, proyek percontohan (pilot activity) ini menyuguhkan kabar baik yang sangat menjanjikan bagi upaya penguatan ketahanan pangan sekaligus pemulihan ekosistem pesisir yang kian rentan diterpa krisis iklim. Langkah inovatif ini seolah mendobrak dogma lama yang menganggap pembukaan tambak harus selalu diiringi dengan pembabatan hutan mangrove. Melalui silvo-aquaculture atau yang akrab dikenal sebagai tambak tumpang sari, pohon-pohon mangrove justru ditanam berdampingan dan terintegrasi langsung di dalam area budidaya perikanan. [irp] Hasil pemantauan di lapangan tim BRIN menunjukkan indikator yang luar biasa, udang yang dibudidayakan di dalam ekosistem tambak bermangrove memperlihatkan laju pertumbuhan yang jauh lebih tinggi dan sehat jika dibandingkan dengan komoditas serupa di tambak-tambak konvensional yang gersang tanpa pepohonan. Data konkret mengenai keberhasilan ini dipaparkan secara gamblang oleh Hiroshi Imae, seorang konsultan andal dari JIN Corporation Jepang. Dalam pemaparannya, Hiroshi mengungkapkan hasil evaluasi mendalam pada akhir masa pemeliharaan udang yang berlangsung selama 98 hari. Angka yang dihasilkan sangat kontras dan mencengangkan. Berat rata-rata udang yang dipanen dari tambak terintegrasi mangrove mampu menyentuh angka 25,85 gram per ekor. Sementara itu, pada tambak konvensional tanpa sentuhan mangrove, berat rata-rata udang hanya mentok di angka 14,62 gram per ekor. Selisih pertumbuhan yang hampir mencapai dua kali lipat ini menjadi bukti empiris yang tidak terbantahkan bahwa keberadaan mangrove memberikan stimulan masif bagi produktivitas perikanan. Menurut Hiroshi, capaian impresif tersebut menegaskan bahwa integrasi yang harmonis antara vegetasi mangrove dan budidaya perikanan berpotensi melahirkan keuntungan ganda (double-win solution). Di satu sisi, lingkungan pesisir mendapatkan benteng alami dari abrasi dan degradasi mutu air, sedangkan di sisi lain, para petambak memperoleh lonjakan hasil panen yang signifikan. [irp] Pendekatan berkelanjutan seperti inilah yang dinilai dapat menjadi salah satu pilar solusi paling konkret untuk memperkuat ketahanan pangan komunitast lokal di wilayah pesisir, yang selama ini menjadi kelompok paling rentan terdampak perubahan lingkungan global. Secara ilmiah, Hiroshi menguraikan bagaimana mekanismenya bekerja dalam ruang lingkup ekosistem tambak. Silvo-aquaculture pada dasarnya adalah seni menyatukan fungsi konservasi dengan pemanfaatan ekonomi secara bijaksana. Di dalam sistem ini, akar-akar mangrove tidak sekadar berfungsi sebagai penahan tanah atau penyaring polutan, tetapi melakoni peran vital sebagai penyedia habitat alami bagi beraneka ragam organisme mikro. "Mangrove berkontribusi besar dalam meningkatkan populasi serta keanekaragaman makrobentos yang hidup di dasar perairan. Organisme-organisme kecil inilah yang kemudian menjadi sumber pakan alami yang sangat melimpah, bergizi tinggi, dan gratis bagi pertumbuhan udang," jelas Hiroshi saat berbicara virtual dalam webinar OceanFarm ke-8 bertajuk Silvo-Aquaculture and Its Contribution to Coastal Food Resilience, Selasa, 23 Juni 2026. Atas dasar keuntungan alami tersebut, ia mendorong para pembudidaya lokal untuk tidak lagi ragu menanam mangrove di area tambak mereka. Kendati memperlihatkan hasil awal yang sangat menggiurkan, perjalanan menuju kodifikasi sistem yang sempurna masih panjang. Hiroshi menggarisbawahi bahwa implementasi silvo-aquaculture skala luas masih menuntut rangkaian penelitian lanjutan yang komprehensif. Salah satu tantangan klasik yang membayangi para petambak adalah tingginya tingkat kerentanan udang windu terhadap serangan penyakit mendadak. Oleh karena itu, riset ke depan tidak boleh terpaku pada satu komoditas saja. Diversifikasi pangan mutlak diperlukan, di mana komoditas bernilai ekonomi lain seperti ikan bandeng serta rumput laut jenis Gracilaria juga harus mulai diuji coba secara intensif dalam ekosistem tambak bermangrove ini. Tantangan teknis lain yang tidak kalah krusial terletak pada tata kelola hidrologi tambak. Hiroshi menambahkan bahwa manajemen air dalam sistem silvo-aquaculture memiliki tingkat kerumitan tersendiri dan memerlukan berbagai eksperimen lapangan guna menemukan formula model yang paling adaptif dan efektif. Karakteristik, kebutuhan sirkulasi, dan toleransi terhadap salinitas air bisa sangat bervariasi, tergantung pada jenis atau spesies mangrove yang ditanam di area tersebut. Integrasi multipendekatan, mulai dari penentuan jarak tanam yang ideal, teknik penjarangan pohon secara berkala, hingga pengaturan pintu air, harus terus digodok secara ilmiah agar pohon mangrove dapat tumbuh subur tanpa mengganggu ruang gerak komoditas budidaya. Melalui kolaborasi riset yang solid antara BRIN dan Jepang ini, jalan menuju perikanan pesisir yang hijau, tangguh, dan menyejahterakan kian terbuka lebar. Jika model silvo-aquaculture di Sulawesi Selatan ini berhasil disempurnakan dan direplikasi secara massal di berbagai wilayah pesisir nusantara, maka impian untuk melihat pesisir Indonesia yang tetap hijau sekaligus lumbung pangan yang mandiri bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, melainkan kenyataan yang menghidupi generasi masa depan.
Topik terkait
#ekosistem mangrove #udang #lingkungan pesisir #Pangan Bahari #silvo akuakultur