Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Gelas Plastik di Bibirmu

bagaimana jika akhirnya, jalan itu bukan hanya ke rumahmu? tapi juga ke matamu yang menyimpan awan? di mana aku cari tempat teduh saat sedang gerah berkeringat keringat air didih di tubuh penuh...

Oleh Irhyl 14 Dec 2019 02:31 1 menit baca
bagaimana jika akhirnya, jalan itu bukan hanya ke rumahmu? tapi juga ke matamu yang menyimpan awan? di mana aku cari tempat teduh saat sedang gerah berkeringat keringat air didih di tubuh penuh tanda seru berangkulan dan jalan menujumu, tak pernah ada cukup kau semua mungkin pada doa melangit, hujan tiba tumpah kau selalu jadi jalan setapak tak mungkin di hindari menuju tujuan: dirimu. meski luka menetak berkali-kali berkali-kali. terus saja kujernihkan rindu dalam hujan aku menadah airnya dari atap aku sedang di depan tv menonton banjir tak sadar, di luar air telah meluap merasuk lembut ke dalam rumah celanaku basah dan kupikir kopi sedang tumpah, warna cokelat. ketika sadar, rupanya pembalut telah jadi tempat dudukku di bawa banjir dari saluran air yang tersumbat depan rumah pembungkus permen karet menempeli bajuku aku baru tahu, rupanya musim hujan telah tiba membawa luka yang lebih luka dari pergimu dan jalan menuju rumahmu tertimbun sampah aku ingin mencari gelas plastik yang menyimpan bekas bibirmu
Penulis: Burhan Basri, lahir 23 Mei 1993 di Makassar. Menyukai puisi sejak duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Saat ia jatuh cinta pada adik kelasnya
Topik terkait
#sampah #musim hujan #puisi lingkungan #sastra ekologi #gelas plastik