Gas Amonia, Sumber Masalah yang Tidak Berwarna
Klikhijau.com – Gas amonia tidak memiliki warna (tidak berwarna). Meski begitu ia memiliki ciri khas, yakni baunya yang menyengat. Gas ini mampu bertahan hingga lebih dari satu minggu di udara. Amo...
Klikhijau.com – Gas amonia tidak memiliki warna (tidak berwarna). Meski begitu ia memiliki ciri khas, yakni baunya yang menyengat.
Gas ini mampu bertahan hingga lebih dari satu minggu di udara. Amonia terpajan atau diekspos melalui pernapasan. Ia dapat dapat memicu iritasi yang kuat terhadap sistem pernapasan kita.
Amonia memiliki sifat yang iritasi, sehingga menjadikannya polutan yang dapat merangsang proses peradangan pada saluran pernapasan.
Gas ini menyerang pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokan.
[irp]
Jika ada yang terpapar gas ini pada tingkatan tertentu, akan dapat menyebabkan gangguan pada fungsi paru-paru dan sensitivitas pada indera penciuman.
Itu karena menurut Andi Saputra dkk, (2018) amonia adalah telah dinobatkan sebagai zat yang beracun. Ia memiliki bau yang khas atau menyengat. Zat ini dapat menimbulkan keresahan dan resistensi dari masyarakat sekitarnya.
Zat atau gas amonia termasuk ke dalam polusi udara yang berbahaya. Polusi udara sendiri Menurut World Health Organization (WHO) telah membunuh membunuh hingga tujuh juta orang setahun di seluruh dunia.
Selain menggangu kesehatan, zat kimia ini juga sangat mengganggu lingkungan. apalagi ia bisa berubah wujud dalam bentuk bebas berupa gas NH3 atau terlarut dalam air sebagai larutan amonium hidroksida (NH4OH).
Zat ini adalah toksik yang dapat merasuk ke dalam tubuh. Cara masuknya dengan melalui jalur ingesti, inhalasi, dan dermal.
Jika ia berhasil masuk saat bernapas, maka separuh dari gas ini merasuk ke dalam tubuh. Jika sudah masuk makan akan diserap oleh paru-paru.
Setelah itu akan berikatan dengan darah yang ada di dalam paru-paru. Nah, darah yang berasal dari paru-paru kemudian diedarkan ke jantung melalui pembuluh darah vena pulmonalis.
Kemudian darah tersebut diedarkan ke seluruh tubuh dan masuk ke dalam hati melalui pembuluh darah arteri hepatika dan vena sehingga bisa menimbulkan penyakit berbahaya.
[irp]