Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Di Tetes Terakhir Kopiku

Oleh: Irhyl R Makkatutu hampir saja kita lupa pernah berkejaran di peluk sendiri. cari diri sendiri hingga asing kita juga lupa berkenalan. ujung jembatan mulai terlihat. "minumlah kopimu- lal...

Oleh Idris Makkatutu 30 Mar 2019 09:16 2 menit baca
Oleh: Irhyl R Makkatutu hampir saja kita lupa pernah berkejaran di peluk sendiri. cari diri sendiri hingga asing kita juga lupa berkenalan. ujung jembatan mulai terlihat. "minumlah kopimu- lalu baring di pelukku," bisikmu aku merinding, pisah tersampir di senyum kita terus berkejaran dalam rasa ke belantara ke bibir pantai ke jalan raya penuh lubang ke air mata "aku ingin rebahkan bulan di pangkuanmu," bisikku kamu merinding, denyutmu melambat-berhenti, dua hingga tiga detik kuberikan napasku berbau rindu di sebuah subuh kita berkejaran cukup jauh aku sampai di pelabuhan kepalaku berubah deru ombak mengantar sampah ke tepian kulihat orang bergelombang di jalan berdesakan penuh amarah kau sampai di bandara kepalamu berubah deru pesawat-bising debu-debu menutup matamu hingga tak melihatku kota berubah pekat oleh polusi jelang pagi itu kita pisah saling cari kejar waktu rindu bara subuh berikutnya segelas kopi tersaji di ruang makan, itu tanda kau telah kembali barangkali kau datang ketika aku sedang di kamar mandi membuang mikroplastik dari dari pakian yang kucuci "habiskan kopimu, lalu berbaringlah di pelukku," bisikmu kembali, aku menurut kepalaku pening, pulas aku di pelukmu subuh berikutnya, aku temukan memeluk diriku sendiri aku berjalan telusuri semua jalan: mencarimu aku temukan fotomu di pepohonan kau memakukan diri disana aku terpukau aku hampir lupa kita pernah berkejaran berubah pelabuhan berubah bandara berubah asing di pelukan sendiri aku ingin pulang kampung... menyeduh kopi sendiri berkejaran dengan diri sendiri memeluk diri sendiri ……hingga tiada…. lalu lupa kita pernah hampir sampai di ujung jembatan namun saling merahasiakan nama masing-masing sstt, namaku kenangan maukah kau kunamai masa lalu? rumah kekasih, 16 Juli 2014
Penulis: Irhyl R Makkatutu, lahir di Desa Kindang, Bulukumba. Pendiri Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra (IPASS) Sulse. Penulis buku Tetirah.
Topik terkait
#puisi lingkungan #tentang kopi #namaku kenangan #masa lalu