Di Balik Hitamnya Arang, Ada...

Di Balik Hitamnya Arang, Ada...Aku berhenti begitu saja. Tak ingin terseret terlalu liar pada sambungan kata “ada”. Aku cukup mengerti, melanjutkannya sama saja mengakhiri semua hal yang telah lama be...

 Di Balik Hitamnya Arang, Ada...
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Di Balik Hitamnya Arang, Ada...Aku berhenti begitu saja. Tak ingin terseret terlalu liar pada sambungan kata “ada”. Aku cukup mengerti, melanjutkannya sama saja mengakhiri semua hal yang telah lama bermula.

Tala, perempuan yang sejak tadi duduk di sampingku. Berkali-kali melempar tanya, kenapa aku tak melanjutkan tulisanku?

Setiap dia bertanya. Aku hanya menjawabnya dengan isapan rokok. Asapnya kukepulkan ke wajahnya.

Aku suka melihatnya cemberut ketika mendapati asap rokok menerpah wajahnya. Tapi aku yakin, bukan karena asapnya yang membuatnya cemberut, lalu menutup hidungnya. Bukan. Namun  bau mulutku yang mengerikan.

Sejak kecil, aku suka makan gula-gula. Itu pantangan yang dilarang ibu padaku. Tapi kebandelan dan rasa iba seorang ibu, ketika aku menangis. Ia akan luluh lalu berjalan ke persimpangan jalan—ke rumah Puang Ramaning membelikanku gula-gula susu.

Puang Ramaning adalah orang pertama yang menjual gula-gula di kampungku. Usahanya  bertahan hingga kini—di usiaku menginjak 43 tahun. Usahanya dilanjutkan oleh anaknya, Haminang—yang bermata agak juling, tapi cukup jeli.

Banyak makan gula-gula, diyakini oleh ibuku akan menyebabkan gigiku rusak. Namun, meski tahu akibatnya, jika aku merengek minta dibelikan. Dan Ibu akan membelikannya.

Seorang ibu, akan tak peduli sedang menanam penyakit dalam tubuh anaknya—asal anak-anaknya bahagia, asal anak-anaknya berhenti menangis.

Maka, ketika aku berusia 2 tahun. Gigiku berlubang-lubang lalu tanggal satu-satu.   Namun, ibu tak khawatir “masih akan tumbuh,” katanya. Ia berkali-kali memarahiku, melarangku makan gula-gula. Namun juga berkali-kali pula ke persimpangan jalan membelikanku.

Seorang ibu memang memilki keanehan. Keanehannya adalah membuat anak-anaknya bahagia. Ia rela berkali-kali marah, namun tak pernah jenuh pula ribuan kali membujuk anaknya agar diam saat menangis karena marahnya.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2