Green Life Style Versi penuh
Berita Lingkungan

Dari Pekarangan Sempit ke Mangkuk Hijau: Jejak Hidroponik Mahasiswa Unhas di Barombong

Oleh Tim Redaksi 09 Aug 2026 14:55 4 menit baca

Klikhijau.com - Matahari Agustus memancarkan hangatnya di Desa Barombong, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba. Di sela-sela riuhnya celoteh warga dan aroma tanah yang khas, sekelompok anak muda berjaket almamater sibuk memotong pipa PVC, mengukur debit air, dan merangkai media tanam sederhana. Hari itu, Senin (06/08/2026), suasana halaman menjelma menjadi laboratorium hidup, sebuah ruang di mana pengetahuan akademik berpadu rapat dengan kearifan lokal dalam semarak kegiatan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Hasanuddin Gelombang 116.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan kian terbatasnya ruang terbuka hijau, urusan bercocok tanam kerap kali terkendala oleh keterbatasan lahan dan pasokan air yang dinamis. Sebagian besar warga Desa Barombong sejauh ini masih menggantungkan asa pada metode budidaya konvensional yang membutuhkan hamparan tanah yang luas. Namun, sore itu, paradigma tersebut perlahan melunak ketika jemari warga mulai menyentuh spons lunak, merangkai instalasi pipa, dan menyemai bibit hijau pertama mereka tanpa menyentuh segram tanah pun.

Meretas Solusi dari Sela Pipa Sederhana

Melalui program fokus Pertanian dan Teknologi Tepat Guna, para mahasiswa Unhas menghadirkan sistem hidroponik sebagai wujud nyata solution journalism di tingkat akar rumput. Hidroponik bukan lagi istilah asing nan rumit yang hanya ada di dalam jurnal-jurnal ilmiah atau rumah kaca bernilai ratusan juta rupiah. Di tangan para mahasiswa, teknologi ini diterjemahkan menjadi instalasi ramah kantong yang dapat dirakit oleh siapa saja di sudut pekarangan rumah.

Koordinator Posko KKN-T Unhas, Ahmad Fadhil Fakhri, menuturkan bahwa gagasan ini lahir dari hasil pengamatan mendalam selama mereka tinggal dan berinteraksi dengan warga Barombong. Ketergantungan pada pola tanam tradisional di tengah penyempitan lahan pekarangan menjadi alasan utama perlunya sebuah terobosan yang membumi.

“Melalui program kerja ini, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa hidroponik dapat menjadi solusi budidaya tanaman yang lebih praktis dan modern. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana ini, masyarakat dapat menghasilkan tanaman yang sehat, menghemat penggunaan air, serta memanfaatkan lahan sempit secara optimal,” tutur Fadhil di sela-sela pendampingan praktik.

Pendekatan yang diambil pun tidak sekadar presentasi satu arah di dalam ruangan tertutup. Para peserta yang terdiri dari perangkat desa, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), ketua dan anggota kelompok tani, hingga ibu rumah tangga—diajak terlibat aktif secara langsung. Mereka merakit alat, menyusun media tanam, mengukur nutrisi, hingga menanam bibit sayuran dengan tangan mereka sendiri. Pengalaman empiris inilah yang mengubah skeptisisme menjadi antusiasme.

Sains Populer yang Membumi dan Ramah Lingkungan

Secara ekologis, metode hidroponik menawarkan lompatan besar dalam efisiensi sumber daya alam. Prinsip dasarnya adalah mengalirkan nutrisi terlarut langsung ke akar tanaman menggunakan media cair, sehingga mengurangi kebutuhan air hingga 70–90 persen dibandingkan dengan metode penyiraman tanah konvensional. Dalam konteks keberlanjutan lingkungan, hal ini menjadi krusial untuk menjaga ketahanan krisis air bersih di masa depan.

Irma Suryani Jama, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Barombong, mengapresiasi langkah nyata yang diusung oleh para mahasiswa. Menurutnya, pendekatan teknologis yang tepat guna ini sangat relevan dengan kebutuhan pemanfaatan pekarangan warga saat ini.

“Sebenarnya tanaman hidroponik itu adalah tanaman yang sangat cocok bagi pemanfaatan pekarangan. Karena apa? Yang pertama, hemat air, kemudian sangat mudah digunakan, mudah dipelihara, terus mengurangi risiko hama dan penyakit. Terus dalam hasil panen itu lebih bersih karena tidak ada tanahnya,” jelas Irma penuh semangat.

Tanpa penggunaan tanah (soilless culture), gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang kerap bersumber dari dalam tanah dapat ditekan secara signifikan. Dampaknya langsung terasa: penggunaan pestisida kimia dapat dikurangi secara drastis, menghasilkan panen sayuran yang lebih higienis, segar, dan aman bagi konsumsi keluarga sehari-hari.

Menyemai Kemandirian Pangan dari Sudut Rumah

Gerakan kecil di Desa Barombong ini menyingkap sebuah pesan penting bahwa krisis iklim dan keterbatasan lahan tidak harus direspon dengan kemalangan atau keputusasaan. Solusi senantiasa hadir dari keberanian untuk mengadopsi cara-cara baru yang lebih bersahabat dengan alam. Hidroponik di pekarangan rumah bukan sekadar tentang memanen sawi atau selada, melainkan tentang membangun kemandirian pangan keluarga dari skala terkecil.

Ketika setiap pekarangan rumah warga mulai dihiasi oleh pipa-pipa hijau yang mengalirkan air dan kehidupan, Desa Barombong sedang menata langkah menuju ekosistem desa yang lebih tangguh dan mandiri. Pengetahuan yang ditanamkan oleh mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 116 ini telah berakar, tumbuh menjadi keterampilan baru yang siap dipetik manfaatnya oleh masyarakat dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, perubahan besar untuk bumi yang lebih hijau sering kali tidak dimulai dari proyek-proyek raksasa yang megah, melainkan dari segelas nutrisi, sepotong spons, dan sebaris pipa plastik di halaman belakang rumah kita sendiri.

Topik terkait
Universitas Hasanuddin Perubahan Iklim Air Pertanian Hidroponik