Dari Lomba 17 Agustus ke Kebiasaan di Rumah

Lomba HUT Kemerdekaan PWK Sulawesi Selatan bukan semata perayaan internal, tetapi upaya membawa isu lingkungan, menanam pohon dan memilah sampah ke ruang paling dekat yakni keluarga.

Dari Lomba 17 Agustus ke Kebiasaan di Rumah
Harmoni Rimbawati Merdeka: Menanam Harapan, Menjaga Alam, Merawat Kebersamaan. Foto: Ist
Bacakan Artikel

Harapannya sederhana, peserta tidak berhenti membawa pulang hadiah, tetapi juga membawa pulang pengetahuan.

Dengan cara itu, lomba menjadi medium. Tujuannya bukan semata siapa yang paling cepat menanam bibit atau paling tepat memilah sampah, melainkan bagaimana kegiatan yang berlangsung beberapa jam itu meninggalkan kebiasaan setelah peserta kembali ke rumah.

Namun, di titik ini terdapat pertanyaan yang belum terjawab dari kegiatan tersebut: apakah pengetahuan yang diperoleh dalam lomba benar-benar berubah menjadi perilaku sehari-hari?

Bahan kegiatan ini belum menyediakan data untuk menjawabnya. Karena itu, keberhasilan edukasi tersebut belum dapat diukur hanya dari antusiasme peserta atau kemeriahan acara.

Sampah tidak selesai di tempat pembuangan

Lomba memilah sampah membawa persoalan lingkungan ke tingkat yang paling dasar: dari mana pengelolaan sampah harus dimulai.

Yanie menyebut sampah saat ini telah menjadi isu nasional dan menekankan pentingnya pemilahan sejak dari rumah. Gagasan tersebut menggeser perhatian dari sampah sebagai sesuatu yang dibuang menjadi sesuatu yang perlu diperlakukan sejak awal, sebelum meninggalkan rumah.

Dalam konteks kegiatan PWK, pesan itu disampaikan melalui permainan.

Cara tersebut membuat isu lingkungan hadir tanpa bahasa kebijakan yang rumit. Peserta berhadapan langsung dengan aktivitas memilah, sementara penonton menyaksikan praktik tersebut dalam suasana perayaan.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: