Dari Balik Jeruji Menuju Kemandirian Hijau, Sinergi Tanami Tanata di Lapas Makassar
Klikhijau.com - Langkah konkret dalam pelestarian lingkungan dilakukan melalui kolaborasi lintas komunitas di Lapas Kelas I Makassar. Gerakan Tanami Tanata ini diinisiasi oleh Yayasan Butta Porea Indo...
Lapas Sebagai Ruang Reintegrasi Sosial Berbasis Lingkungan
Kepala Lapas Kelas I Makassar, Sutarno, BC.IP., S.H., M.H., menyambut baik kegiatan terkait manajemen persampahan ini. Beliau menekankan bahwa Lapas berfungsi sebagai ruang reintegrasi sosial, sehingga pelatihan ini menjadi keterampilan yang sangat berharga. Di ruangan kerjanya, Sutarno menjamu para rombongan yang telal melakukan pelatihan, dengan diskusi seputar ecoenzyme dan berbagai manfaatnya. Ia mengapresiasi langkah ini,dengan adanya pengolahan sampah di dalam Lapas, maka tak ada lagi sampah yang keluar (ke TPA), semuanya diolah dan dimanfaatkan di dalam, Dengan menguasai teknik pengolahan sampah, para warga binaan memiliki bekal kemandirian ekonomi dan kesadaran lingkungan saat nanti kembali ke masyarakat. Melalui kerja bersama ini, setiap elemen warga, termasuk warga binaan, turut ambil bagian dalam mewujudkan Makassar sebagai kota yang tangguh secara lingkungan di masa depan.Sinergi melalui Urban Farming Terintegrasi
Selain fokus pada pembuatan Eco Enzyme, kawasan Lapas Kelas I Makassar juga telah mengimplementasikan sistem Urban Farming Terintegrasi yang menjadi model ideal pengelolaan limbah berbasis komunitas. Di dalam area ini, sampah organik dikelola secara berkelanjutan melalui budidaya maggot (Black Soldier Fly). [irp] Maggot tersebut berperan sebagai dekomposer alami yang efektif mengurai sisa makanan, yang kemudian hasilnya dimanfaatkan sebagai pakan tinggi protein untuk ternak ayam di lokasi yang sama. Siklus ini menciptakan sebuah ekosistem mandiri yang tidak hanya mengurangi beban sampah ke tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi dan ketahanan pangan bagi internal Lapas. Andi Akbar Kepala Pembinaan Kerja Lapas Kelas I Makassar menceritakan bahwa lahan ini awalnya tidak berfungsi efektif, namun dengan adanya Yayasan Butta Porea, lahan ini diubah menjadi area produktif menjadikannya lahan Urban Farming. “Pekerja di sini itu kita melibatkan warga binaan kita dari dalam lapas yang menjalani akhir masa tahanan yang tak lama lagi akan bebas, sehingga dengan keterlibatan berbagai pihak ini sudah berjalan dengan baik,’” ujar AkbarLapas Makassar, Laboratorium Urban Farming Terintegrasi
Ketua Dewan Pembina sekaligus Pendiri Yayasan Butta Porea Indonesia, Andi Fadly Arifuddin atau yang akrab disapa Fadly Padi, menegaskan bahwa filosofi gerakan Tanami Tanata merupakan sebuah gerakan kolektif.
Masalah urban farming dan pengelolaan sampah di Kota Makassar dinilai tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan harus melibatkan sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, masyarakat, hingga berbagai instansi terkait. Menurutnya, gerakan ini dirancang dengan pendekatan bottom-up tumbuh dari akar rumput seperti aktivis dan masyarakat yang kemudian disambut oleh regulasi dan fasilitasi top-down dari pemerintah kota.
[irp]
Fadly mengungkapkan bahwa keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada konsistensi atau sikap istiqomah. Ia menekankan bahwa kampanye edukasi lingkungan bukanlah gerakan yang bersifat instan atau pop-up, melainkan upaya membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Saat ini, respon Pemerintah Kota Makassar dinilai sudah sangat positif melalui penerbitan perda, perwali, hingga perbaikan fasilitas hingga tingkat RT/RW. Bagi Fadly, Tanami Tanata bukan sekadar jargon, melainkan jawaban atas kebutuhan dasar setiap keluarga di Makassar untuk mencapai kemandirian pangan, bibit, serta pengelolaan limbah zero waste.
Urgensi gerakan ini semakin meningkat seiring ancaman fenomena alam yang nyata, yakni El Nino. Fadly merujuk pada peringatan BMKG mengenai munculnya Godzilla El Nino, sebuah fenomena langka yang harus menjadi lampu kuning bagi semua pihak. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang profesi, untuk mulai belajar beradaptasi dan membangun kesadaran kolektif.
Sebagai langkah konkret, saat ini Yayasan Butta Porea juga tengah menyusun modul dan silabus praktis yang mencakup bidang pertanian, ketahanan pangan, pengelolaan limbah plastik, hingga pemanenan air hujan (rainwater harvesting).
[irp]
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Makassar dipilih menjadi lokasi pionir untuk menjalankan konsep urban farming terintegrasi ini. Fadly memaparkan bahwa potensi sampah organik di Lapas mencapai sekitar 600 kilogram per hari.
Limbah tersebut diolah menjadi manfaat baru, seperti maggot untuk pakan ayam dan ikan, kulit buah menjadi eco-enzyme, hingga kotoran hewan yang diubah menjadi pupuk tanaman. Bahkan, Fadly mulai menunjukkan hasil nyata berupa produksi telur pertama dari peternakan ayam di kawasan tersebut sebagai awal dari target produksi yang lebih besar di masa depan.
Fadly mengibaratkan jika Makassar sebagai sebuah perahu besar di mana semua warga adalah awaknya yang bertujuan mencapai kemandirian pangan dan bebas sampah. Ia mengaitkan tanggung jawab lingkungan ini dengan prinsip kebanggaan masyarakat lokal, yakni Siri na Pacce. Menurutnya, menjaga kebersihan adalah bagian dari harga diri dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam, termasuk tanaman, tanah, dan air.
Menutup penjelasannya, Fadly menekankan pentingnya langkah kecil yang konsisten. Ia mengutip konsep butterfly effect, di mana tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya dapat memberikan dampak besar bagi ekosistem secara keseluruhan. Melalui kolaborasi yang solid antara masyarakat sebagai penggerak dan pemerintah sebagai fasilitator, ia optimis kapal Kota Makassar akan sampai pada tujuannya sebagai kota yang tangguh secara ekologi dan pangan.