Klikhijau.com - Langkah konkret dalam upaya pelestarian ekosistem pegunungan kembali ditunjukkan melalui kolaborasi masif berbagai elemen, 110 delegasi yang berasal dari instansi pemerintah, organisas...
Klikhijau.com - Langkah konkret dalam upaya pelestarian ekosistem pegunungan kembali ditunjukkan melalui
kolaborasi masif berbagai elemen, 110 delegasi yang berasal dari instansi pemerintah, organisasi pemuda, hingga kelompok pecinta alam memulai aksi nyata pelestarian
lingkungan dalam kegiatan Kampanye dan Aksi Bersih di kawasan jalur pendakian Gunung Bawakaraeng pada Rabu, 13 Mei 2026.
Aksi ini wujud nyata sinergi lintas instansi yang bergerak dalam Gerakan Aksi Bersih atau
Korve, yang kini telah ditetapkan sebagai salah satu agenda Gerakan Nasional.
Kegiatan kolosal ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (
Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku (Suma), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulsel, BPDAS, Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi, hingga Dharma Wanita.
[irp]
Dukungan penuh juga mengalir dari Pemerintah Kelurahan Pattapang, TNI/Polri, NGO, Organisasi Kepemudaan (OKP), Kelompok Pecinta Alam (KPA), media, serta komunitas masyarakat lokal.
Spektrum keterlibatan yang luas ini menegaskan bahwa urusan lingkungan bukan lagi menjadi tanggung jawab satu pihak semata, melainkan kerja kolektif seluruh elemen masyarakat.
Melalui Bulu Ballea, peserta melakukan persiapan dan mobilisasi menuju Pos 8 Pendakian Gunung Bawakaraeng. Meski sedang hujan semangat para peserta aksi tidak surut menuju pos 8, Fokusnya pembersihan sampah di area Pos 8 Bawakaraeng yang sering menjadi titik kumpul pendaki. Penanganan sampah anorganik, seperti plastik dan botol minuman, yang kerap menjadi masalah di area perkemahan.
Meski hujan menyelimuti kawasan dan hujan mulai mengguyur dengan intensitas yang cukup tinggi, semangat para peserta tidak luntur sedikit pun. Medan yang licin dan udara dingin pegunungan justru menjadi pemacu adrenalin bagi tim untuk mencapai target lokasi pembersihan.
Fokus aksi hari pertama ini adalah mensterilkan area Pos 8 Bawakaraeng, sebuah titik yang selama ini menjadi area favorit berkemah para pendaki namun rentan terhadap tumpukan sampah.
Sampah anorganik, terutama plastik sekali pakai dan botol minuman, menjadi target utama dalam penyisiran ini. Setelah melakukan pembersihan intensif selama beberapa jam, tim berhasil mengumpulkan akumulasi sampah yang mengejutkan.
[irp]
Tercatat, total berat sampah yang diangkut mencapai 389 kilogram dengan volume sebanyak 35 kantong sampah besar. Dominasi sampah plastik ini mencerminkan masih rendahnya kesadaran sebagian pengunjung gunung terhadap prinsip
Leave No Trace atau tidak meninggalkan jejak sampah saat melakukan aktivitas luar ruang.
Selain aksi pungut sampah, momen krusial dalam kegiatan ini adalah peresmian
green infrastructure (infrastruktur hijau) berupa fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang dipimpin langsung oleh Kepala Pusdal LH Suma, Dr. Azri Rasul.
Infrastruktur Hijau: Solusi Sanitasi di Ketinggian
Peresmian bangunan fasilitas sanitasi ini menjadi terobosan penting bagi pengelolaan kawasan Gunung Bawakaraeng. Dr. Azri menjelaskan bahwa selama ini akses air bersih menjadi kendala utama bagi para pendaki di sekitar area perkemahan Pos 8.
"Biasanya, ketika pendaki berada di sini dan membutuhkan air, mereka harus turun cukup jauh menuju sungai. Kami hadir untuk memberikan solusi dengan menghadirkan sistem pengaliran air yang lebih dekat ke kawasan
camp," kata Azri Rasul.
Ia mengaku dalam pembangunan ini telah memikirkan pemilihan bahan untuk dapat dilakukan dalam waktu jangka panjang.
"Kami menggunakan pipa elastis yang telah dirancang khusus agar tahan lama dan tidak mudah rusak meski terinjak oleh binatang hutan. Air tersebut dialirkan dari sumbernya sejauh 120 meter menuju penampungan yang kita bangun di atas," jelas Dr. Azri Rasul saat meninjau langsung fasilitas tersebut.
Kehadiran fasilitas sanitasi di pegunungan bukan hanya masalah kenyamanan, melainkan sebuah kebutuhan ekologis yang mendesak.
Sanitasi yang buruk di kawasan hulu dapat berdampak sistemik terhadap kualitas air yang mengalir ke hilir, yang notabene dikonsumsi oleh ribuan warga di kaki gunung. Dengan adanya MCK yang terencana, pembuangan limbah manusia dapat dikelola dengan lebih baik, sehingga tidak mencemari tanah dan sumber air alami yang menjadi nadi kehidupan ekosistem setempat.
[irp]
Aksi lingkungan ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan Pusdal LH Sulawesi dan Maluku yang diwakili oleh Kabidwil II, Arnianah Alwi, S.Si, M.Si, serta Kasubag Tata Usaha, Rina Triany, M, S.E, M.A.P. Kehadiran mereka didampingi oleh jajaran staf Bidang Wilayah 2 dan Tata Usaha yang bahu-membahu bersama relawan lainnya.
Tak ketinggalan, Dharma Wanita Pusdal LH Suma yang dipimpin langsung oleh drg. Sukreni Abdullah, M.KEs, turut terjun langsung ke lapangan, membuktikan bahwa komitmen pelestarian lingkungan juga didorong kuat oleh peran aktif kaum perempuan dan keluarga besar instansi pemerintah.
Menariknya, panitia sangat tegas dalam menerapkan prinsip ramah lingkungan selama kegiatan berlangsung. Setiap peserta diwajibkan membawa
tumbler atau wadah air minum masing-masing.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa aksi bersih ini tidak justru menambah produksi sampah plastik baru. Setelah menyelesaikan tugas berat di Pos 8, para peserta bergerak turun menuju Basecamp Lembanna untuk melanjutkan agenda koordinasi berikutnya yang akan difokuskan pada kawasan TWA Malino.
Aksi bersih dan pembangunan fasilitas ini seyogianya menjadi pemantik kesadaran kolektif. Gunung Bawakaraeng dan TWA Malino adalah warisan alam yang tak ternilai harganya. Namun, kelestariannya kini berada di ujung tanduk jika perilaku tidak bertanggung jawab masih terus berlanjut.
Fasilitas yang telah dibangun dengan susah payah ini adalah milik bersama, dan sudah menjadi kewajiban setiap pendaki serta pengunjung untuk menjaga dan merawatnya. Jangan sampai infrastruktur hijau yang dibangun untuk memuliakan alam justru rusak akibat vandalisme atau ketidakpedulian.
Pesan dari Gunung untuk tak hanya menjadi kunjungan, namun menjadikan gunung sebagai rumah, bukan tempat sampah.
Pelestarian lingkungan bukanlah tugas sekali jalan, melainkan komitmen seumur hidup. Edukasi antar sesama pendaki harus terus dilakukan. Jangan ragu untuk saling mengingatkan jika melihat rekan sesama pendaki yang membuang sampah sembarangan atau merusak fasilitas umum.
Keberlanjutan lingkungan yang lestari bisa dicapai dengan mengedankan budaya malu, malu jika tidak membawa sampah turun, malu jika merusak alam, dan malu jika tidak memberikan warisan lingkungan yang bersih bagi generasi mendatang.
Jaga Bawakaraeng, jaga Malino, dan jaga napas bumi, satu sampah yang dipungut adalah satu harapan bagi kelangsungan hidup alam .