'Capat' Sampah, Cara Ekopastoral Fransiskan Manggarai Tangani Sampah di Hari Bumi

Klikhijau.com - Di masa lalu, capat yang dibuat dari anyaman bambu, berbentuk menyerupai terompet. Capat digunakan oleh orang Manggarai untuk menjebak udang, belut, katak, kepiting dan lain-lain di su...

'Capat' Sampah, Cara Ekopastoral Fransiskan Manggarai Tangani Sampah di Hari Bumi
Bacakan Artikel

Sumber Sampah

Pastor Johni membeberkan, dari mana asal sampah-sampah ini? Jangan pernah latah menuduh bahwa musang dan monyet monyet di seantero hutan ini sudah menghasilkan sampah plastik. Apalagi menuduh anak cucu mereka sudah doyan makan wafer, mie instan, atau bahkan sudah gemar memakai popok (pampers) dan pembalut wanita!

Merujuk pada penuturan salah satu warga, lanjut dia, bahwa selama ini, ada saja warga yang diam-diam datang ke tepi hutan ini dan membuang sampah di jembatan. Sampah-sampah itu kemudian terhanyut dibawa banjir melewati kali kecil. Ada hal yang sangat sadar dilakukan. Orang keluar dari rumahnya saat hari mulai gelap atau siang-siang saat jalanan sepi untuk membuang karung berisi sampah-sampah rumah tangga.

"Tanpa pengawasan ketat dan penegakan aturan perilaku membuang sampah di hutan dan sungai makin meraja lela. Selain di ruas jalan Pagal-Cibal Timur, juga sepanjang jalan Pagal-Gapong, ada begitu banyak tumpukan sampah," tegasnya.

Ia mengungkapkan, timnya tidak menemukan seekor kodokpun di sepanjang kali yang dilalui. "Mungkin mereka sedang mengungsi menghindari sampah-sampah plastik yang dibuang warga," ucapnya penuh kesal.

Dikatakannya, saat ini, kalau saja orang memasang capat di kali kecil tersebut, jangan bermimpi akan mendapat udang, ikan dan belut. Yang paling banyak ditangkap pasti sampah plastik. Lebih dari itu, lanjut Pastor Johny, RTK 18 sangat penting untuk menopang hidup warga di Pagal.

"Mencemari hutan dan sungai yang mengalir dari hutan ini sama halnya dengan meracuni diri sendiri dan segala makhluk. Ini tentu saja segi yang sangat memprihatinkan dari peradaban nyampah ini! Orang kelimpungan mengatasi sampah rumah tangga kecilnya sambil menjadikan rumah tangga yang lebih besar, bumi rumah kita bersama sekalian mahluk, sebagai tempat sampah ukuran besar! ," tegasnya.

Mulai dari Rumah Sendiri

Sementara itu, dengan rasa heran Carlos Siga (19), Aspiran asal Riung, Ngada, mengatakan, kali kecil ini sudah jauh dari pemukinan, tetapi masih saja dijejali sampah. "Jangan tanya lagi perihal kali-kali yang dekat pemukiman, lima sepuluh meter dari rumah. Sudah pasti banyak sampahnya," ungkapnya.

Siga berharap agar ada kesadaran bersama untuk tertib mengolah sampah rumah tangga. “Janganlah senaknya membuang sampah di hutan dan di sungai-sungai!” tambahnya.

Harapan senada diungkap Bapak Richardus Barat SS (40) yang juga ambil bagian dalam aksi tersebut. Menurutnya, membuang sampah pada tempatnya perlu dibiasakan di rumah masing-masing. Setiap keluarga perlu menyiapkan tempat sampah di rumah masing masing dan membiasakan diri untuk memisahkan sampah organik dan non organik.

"Yang non organik ini harus tahu betul bagaimana menanganinya agar tidak dibuang sembarangan. Pilihan orang membuang yang non organik selama ini sungai atau hutan sambil berusaha agar tidak kedapatan," jelasnya.

Perihal menangani sampah popok, Ibu Lestari (33) berbagi pengalaman, popok-popok bayi sebetulnya bisa dicuci di kloset. Jelly-nya dibuka dan ditaruh di tanaman, pisang atau labu, terutama untuk cadangan air di musim kemarau. Semenrata plastiknya bisa dibakar. "Orang di sini banyak yang mau praktis saja. Setelah dipakai, ditaruh di karung, lalu dibuang ke sungai!," tutupnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2