Bunga Basah, si Liar yang Hilang di Kemarau, Memesona di Musim Basah
Klikhijau.com – Bunga basah, begitu saja orang-orang di kampung saya menamainya. Tak ada yang mengembangbiakkannya. Tumbuh liar saja di kebun atau di pinggir jalan. Warna bunganya orange, hanya tum...
Klikhijau.com – Bunga basah, begitu saja orang-orang di kampung saya menamainya. Tak ada yang mengembangbiakkannya. Tumbuh liar saja di kebun atau di pinggir jalan.
Warna bunganya orange, hanya tumbuh saat musim basah (hujan). Saya mencari tahu apa bahasa Indonesia atau bahasa latinnya, namun gagal. Maka saya menamainya juga bunga basah.
Dinamai bunga basah karena hanya akan tumbuh saat musih hujan. Pun menyukai tanah yang memiliki kadar air yang cukup banyak.
Jika kamu mencarinya saat kemarau, sudah pasti akan sulit menemukannya. Namun, jika musim basah akan tumbuh berdesakan. Khususnya di daerah bagian Kindang, Bulukumba.
[irp]
Bunga ini menyukai tempat yang agak terlindungi dari paparan sinar matahari, maka tidak mengherankan jika banyak pula yang tumbuh di bawah rimbunan pohon kopi.
Kemarin ketika saya ke Desa Kahayya yang merupakan tetangga dari Desa Kindang, sepanjang jalan banyak saya temukan tumbuhan ini tumbuh, dengan bunga yang mekar memesona.
Bunga ini bukanlah tumbuhan yang diharapkan kemunculannya oleh para petani. Ia dianggap rumput yang mengusik tanaman. Tumbuh liar tanpa terkendali.
Karenanya bagi para petani para tumbuhan ini adalah musuh bebuyutan tiap musim hujan. Barangkali karena itu pula, nyaris ada yang akan berniat menikmati keindahannya, terlalu biasa.
Sesuatu yang terlalu biasa akan hilang daya tariknya. Seperti halnya bunga basah, bagi orang kampung, seperti di kampung saya. Hadirnya justru meresahkan dan harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.