Bucephalandra, Tanaman Air Bernilai Tinggi yang Pas untuk Aquascape

Klikhijau.com – Bucephalandra, namanya memang masih terasa asing, bukan? Namun di balik namanya yang asing, ia mulai merangkak menjadi tanaman air primadona, khususnya bagi pencinta aquascape. Aqua...

Bucephalandra, Tanaman Air Bernilai Tinggi yang Pas untuk  Aquascape
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

“Tanaman ini harus diekspor langsung dari Indonesia. Selain itu pertumbuhannya cenderung lambat. Ini sebenarnya jadi peluang,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa potensi pengembangan masih terbuka luas. Sebagaimana arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, tanaman seperti buce harus terus didorong untuk pasar ekspor.

Dikembangkan Balitbangtan

Melihat potensi tanaman bucephalandra yang sangat menjanjikan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mulai mengembangkan tanaman ini.

Tujuan pengembangan tersebut untuk memperbanyak benih secara kultur jaringan (in vitro) yang dilakukan di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor, Jawa Barat.

Kepala Balitbangtan,  Dr.  Fadjry Djufry mengatakan, buchepalandra merupakan tanaman endemik Kalimantan yang bernilai ekonomi cukup tinggi. Di Amerika, para aquascaper (para pelaku aquascape) harus membeli tanaman ini dengan harga USD 7 untuk satu rumpun kecil.

“Di Indonesia masih banyak yang belum tahu. Sementara di luar negeri sudah banyak yang memanfaatkannya,” kata Fadjry seperti dikutip dari laman litbang pertanian.

Tingginya permintaan jenis tanaman air ini membuat Fadjry sedikit khawatir akan disalah gunakan. Karena itu, harus dilakukan sesuai prosedur agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, seperti eksplotasi berlebihan yang bisa menyebabkan gangguan pada ekosistem aslinya. Tanaman ini merupakan plasma nutfah kekayaan Indonesia yang harus dilindungi.

Sementara itu Peneliti Balitbangtan, Dr. Rossa Yunita, menjelaskan tanaman buchepalandra memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga sulit dibudidayakan oleh petani tanaman air. Oleh karena itu, Balitbangtan bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2016—2018 lalu sudah menerapkan teknologi kultur jaringan untuk memperbanyak komoditas tersebut.

“Kita sebagai lembaga peneltian memiliki kewajiban untuk menemukan dan mengaplikasikan teknologi yang dapat diaplikasikan langsung oleh petani, sehingga mereka tidak lagi mengeksploitasi alam yang dapat merusak keragaman genetik kita,” papar Rossa.

Saat ini budidaya buce sudah dilakukan di Bogor, Cirebon, Madiun dan termasuk di wilayah Kalimantan sendiri. Kita patut berharap agar tanaman endemik Indonesia ini tetap terjaga dan terawat dan menjadi identitas daerah asalnya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2