Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Sastra Hijau

Bocah yang Berjalan Menuju Laut

ini jadi siang ditandai dengan seasbak puntung rokok kita buang ke selokan kelak hujan membawanya jauh ke laut tempat ikan berenang sebelum tiba di meja makan. juga kita tandai dengan cerita-ce...

Oleh Idris Makkatutu 08 Sep 2019 09:35 1 menit baca
ini jadi siang ditandai dengan seasbak puntung rokok kita buang ke selokan kelak hujan membawanya jauh ke laut tempat ikan berenang sebelum tiba di meja makan. juga kita tandai dengan cerita-cerita masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi kau bercerita perihal perempuan di matanya hidup sepasang ikan bibirnya penuh kepiting kukunya terisi pasir ia mengunyah lidahnya sendiri aku tatap matamu cari kebohongan seperti Jarja cari kebohongan di mata Khalid pada sebuah perang matamu terlalu jujur ini jadi siang kesekian, kita rayakan rindu di segelas capucino dingin dan aku habiskan berbatang-batang rokok puntungnya dibuang di selokan depan rumah aku genggam tanganmu kukumu keluarkan pasir aku tersenyum, sedikit terpaksa “maukah kau berubah puntung rokok, ikan, pasir lalu kita berenang di segelas capucino dingin,” ujarmu hangat. aku lihat siang bersungut pergi sepasang mata bocah menatapi kita di tangannya ada kamera ia hendak menuju laut merekam puntung rokok yang di makan ikan sebelum tiba di meja makan.
Penulis, lahir di Desa Kindang, Bulukumba
 
Topik terkait
#ekologi sastra #puntung rokok #puisi lingkungan #sastra ekologi #laut #bocah #ikan #selokan