Bhutan, Negara Pertama yang Dinyatakan Bebas Emisi Karbon di Dunia
Klikhijau.com – Bhutan, sebuah negara kecil yang mungkin tak familiar di telinga. Namun, berkat capaiannya dalam isu iklim, negara ini jadi buah bibir, kini. Bhutan terletak di Asia Selatan, persis...
Klikhijau.com – Bhutan, sebuah negara kecil yang mungkin tak familiar di telinga. Namun, berkat capaiannya dalam isu iklim, negara ini jadi buah bibir, kini.
Bhutan terletak di Asia Selatan, persisnya di timur pengunungan Himalaya. Negara yang beribukota di Timphu ini dinyatakan sebagai satu-satunya negara yang bebas emisi karbon.
Luas negara ini hanya sekira 38.395 km per segi dengan penduduknya yang diperkirakan 800.000 jiwa. Atau setidaknya hanya setara dengan jumlah penduduk satu kabupaten di Indonesia.
Bhutan yang berbentuk monarki ini adalah negara mungil yang diapit India dan China. Turis pun dibatasi untuk berkunjung ke negara tersebut. Bhutan jadi fenomenal karena menjadi satu-satunya negara yang mencapai negatif karbon.
Daratan Bhutan masih alami dan relatif banyak tertutupi hutan rimbun. Bahkan sekira 72% dari wilayah Bhutan adalah hutan alamiah yang mampu menyerap karbon secara cepat. Inilah faktor pendukung utama sehingga negara ini memiliki lingkungan yang negatif karbon.
[irp]
Menariknya, mayoritas warganya berprofesi sebagai pengelola hutan dan bertani. Tak heran, emisi yang dihasilkan pun kurang dari 2,5 juta ton CO2 per tahun.
Apakah semua negara kecil berpotensi negatif karbon? Tidak juga! Faktanya, Luksemberg adalah negara yang ukurannya sama, bahkan dengan jumlah populasi lebih sedikit, namun emisinya empat kali lipat.
Meski bertetangga dengan negara raksasa dunia di Asia yakni India dan China, Bhutan justru tak tertarik untuk mengejar perekonomian. Negara ini justru memperkuat pembangunan pada dimensi budaya, manusia dan lingkungan—ketiga isu ini jadi isu fundamental dalam agenda bernegaranya.
Matt Finch, analisis dari Lembaga Energi dan Intelektual Iklim Inggris, mengatakan pada CNN, “Bhutan kemungkinan mengatakan, ‘kami ingin lebih terhubung dengan negara tetangga, ingin industrialisasi dilakukan, kami juga menginginkan kemajuan ekonomi’ namun mereka ternyata tidak melakukannya. Kepemimpinan adalah soal menentukan apa yang dilakukan dan lalu melakukannya. Pemimpin negara ini justru berkomitmen agar negaranya untuk tetap dalam kondisi negatif karbon. Dan mereka fokus dengan itu.”
[irp]