Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Bersama ICRAF, Sulsel Menyusun Peta Jalan Ekonomi Hijau

Klikhijau.com - Beragam wajah menghiasi salah satu ruangan Hotel Maxone, Makassar. Mereka adalah perwakilan pejabat pemerintah, perwakilan kabupaten dan kota, aktivis lingkungan, peneliti, hingga pela...

Oleh Andi Ayatullah 24 Sep 2025 06:12 3 menit baca
Klikhijau.com - Beragam wajah menghiasi salah satu ruangan Hotel Maxone, Makassar. Mereka adalah perwakilan pejabat pemerintah, perwakilan kabupaten dan kota, aktivis lingkungan, peneliti, hingga pelaku usaha kecil. Mereka tidak sekadar hadir untuk mendengar paparan, melainkan untuk menjadi bagian dari sebuah perjalanan panjang transformasi Sulawesi Selatan menuju ekonomi hijau. Bagi Sulawesi Selatan, pembangunan hijau bukan lagi jargon. Di banyak desa, masyarakat sudah merasakan bagaimana perubahan iklim memengaruhi kehidupan sehari-hari. Di Kabupaten Soppeng, misalnya, Hasan seorang petani padi berusia 47 tahun mengaku panennya tidak lagi seperti dulu. Musim tanam menjadi tidak menentu, dan sawahnya beberapa kali tergenang banjir. “Dulu, air sungai jadi berkah. Sekarang, kalau hujan deras, kami malah khawatir. Panen bisa gagal,” katanya lirih. Kisah Hasan bukan satu-satunya. Di Luwu Timur, Maryam, seorang petani kakao, juga merasakan dampak yang sama. Pohon-pohon kakaonya yang dulu subur kini sering terserang hama. [irp] “Kami butuh cara baru bertani, kalau tidak hasilnya terus menurun,” ujarnya. Situasi inilah yang mendorong lahirnya Rencana Pertumbuhan Ekonomi Hijau atau Green Growth Plan (GGP). Rencana ini disusun bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Bappelitbangda dengan dukungan ICRAF Indonesia, serta melibatkan berbagai pihak dari masyarakat sipil hingga organisasi perempuan. “Sulawesi Selatan punya potensi besar dari sektor berbasis lahan. Tapi kita tidak bisa lagi hanya mengejar pertumbuhan angka. Kita harus membangun dengan cara yang menjaga daya dukung lingkungan,” ujar Inyo, Kabid Perekonomian dan SDA Bappelitbangda Sulsel. [irp] Direktur ICRAF Program Indonesia, Andre Ekadinata, menjelaskan pentingnya rencana ini sebagai peta jalan masa depan. “Jika strategi ini dijalankan, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan bisa meningkat rata-rata 0,6 persen lebih tinggi dibandingkan skenario biasa. Yang lebih penting, emisi gas rumah kaca juga bisa ditekan drastis hingga sepuluh kali lebih rendah,” jelasnya.
Tujuh strategi tawaran GGP
Ada tujuh strategi besar yang ditawarkan GGP, mulai dari pengelolaan tata ruang yang lebih terintegrasi, peningkatan produktivitas sektor unggulan, perbaikan rantai nilai UMKM dan koperasi, pemulihan daerah aliran sungai, hingga pemanfaatan instrumen ekonomi untuk mendukung jasa lingkungan. Strategi ini dirancang agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mengurangi risiko bencana, meningkatkan daya saing, dan memperkuat ketangguhan masyarakat. [irp] Diskusi di ruang pertemuan itu berlangsung hangat. Beberapa peserta bahkan menyinggung perlunya program nyata di lapangan. “Rencana ini akan terasa dampaknya kalau petani kecil bisa langsung merasakan manfaatnya. Misalnya lewat akses modal, pelatihan teknologi ramah lingkungan, atau perlindungan harga komoditas,” ucap seorang peserta dari organisasi masyarakat sipil. Andre merespons optimis. Menurutnya, keberhasilan ekonomi hijau bergantung pada kolaborasi. “Ekonomi hijau bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Kalau kita ingin Sulawesi Selatan tetap menjadi rumah yang layak bagi generasi mendatang, transformasi ini harus kita jalankan bersama,” tegasnya. Hari itu, di Makassar, sebuah komitmen lahir. Komitmen untuk tidak hanya membangun Sulawesi Selatan hari ini, tetapi juga menjaga masa depan yang lebih hijau, lebih adil, dan lebih tangguh. Hasan di Wajo dan Maryam di Luwu Timur mungkin tidak hadir di ruangan itu, tetapi keputusan yang diambil akan menentukan bagaimana mereka dan ribuan petani lain menjalani hidup esok hari. [irp]
Topik terkait
#sulsel #makassar #pertanian berkelanjutan #ekonomi hijau #jalan hijau #suara petani #icraf