Berkonsep Bambu, Sikola Macca Menggoda untuk Dikunjungi
Klikhijau.com - Banyak hal terjadi serba pertama bagi saya beberapa hari terakhir. Pertama kali menginap di Tanete, Bulukumba, pertama kali naik motor sendiri ke Sinjai, pertama kalinya ke Hutan Mangr...
Klikhijau.com - Banyak hal terjadi serba pertama bagi saya beberapa hari terakhir. Pertama kali menginap di Tanete, Bulukumba, pertama kali naik motor sendiri ke Sinjai, pertama kalinya ke Hutan Mangrove Tongke-tongke.
Meski sejujurnya hal itu tak mengagetkan saya. Saya yakini segala sesuatu pasti dimulai dengan pertama. Pertama kalinya pula saya bertemu dengan orang Jepang dalam waktu yang cukup lama.
Dan yang paling mendebarkan, pertama kalinya saya ke Desa Bonto Salama, Sinjai Barat. Mengunjungi Sikola Macca yang berkonsep bambu. Sikola Macca, berarti sekolah pintar
"Bambu ini diawetkan secara alami," kata Rahmat Samuda, salah seorang pengurus Sikola Macca.
[irp posts="8796" name="Pakai Pikap ke Sikola Macca, Mahasiswa Jepang Makan di Daun Pisang"]
"Bagaimana caranya, apa menggunakan bahan alami?" tanya saya.
"Tidak begitu, caranya bambu harus ditebang di atas jam 12 siang," jawabnya.
"Jadi tidak menggunakan bahan tertentu?"
"Tidak, bambu yang ditebang di atas jam 12 siang, kadar gulanya berkurang, beda jika ditebang dipagi atau di bawah jam 12 siang."
Saya pikir pengawetan alami yang di maksud Rahmat menggunakan ramuan khusus yang dibalurkan ke bambu, tapi rupanya hanya cara dan waktu menebangnya
"Setelah ditebang, keringkan dulu, lebih bagus kalau dibiarkan di rumpunnya hingga daunnya berguguran."
Setelah bambu di tebang, dikeringkan di tempat tanpa diturunkan. Di kampung saya, setiap musim cengkih hal ini juga dipraktikan oleh ayah.
"Selain bisa awet, ketika dikeringkan kita juga bisa tahu mana bambu yang masih muda, jika masih muda akan kempis seperti ini," katanya lagi sambil menunjuk bambu yang kempis di sebelah kanannya.
Sontak mata saya mengarah ke bambu yang ia tunjuk.