Benarkah, Jam Kerja yang Panjang Tingkatkan Risiko Kematian?
Klikhijau.com – Pekerja dan pekerjaan, dua hal tak terpisahkan. Ada pekerja jika ada pekerjaan. Dan pekerjaan hanya akan usai jika ada pekerja yang mengerjakannya. Keduanya saling membutuhkan. Peke...
Klikhijau.com – Pekerja dan pekerjaan, dua hal tak terpisahkan. Ada pekerja jika ada pekerjaan. Dan pekerjaan hanya akan usai jika ada pekerja yang mengerjakannya.
Keduanya saling membutuhkan. Pekerja merupakan roda atau nyawa dari pekerjaan. Karena itu, setiap perusahaan akan membutuhkan tenaga para pekerja.
Banyak sistem yang dianut agar keduanya saling menguntungkan, misalnya dengan sistem gilir atau shift. Ada juga yang memberlakukan jam kerja tertentu. Hal ini bisa membuat pekerja tidak terlalu menguras tenaga dan juga waktunya.
Perihal waktu, tidak sedikit pula pekerja yang bekerja lebih panjang, melebihi batas waktunya. Kadang istilah semacam ini disebut dengan lembur.
[irp]
Namun, ada permasalahan baru diungkapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa bekerja dengan jam kerja panjang. Telah membunuh ratusan ribu orang setiap tahun.
Parahnya tren ini semakin meningkat dan kian memburuk, terutama saat pandemi Covid-19 melanda.
Pada makalah di jurnal Environment International, yang merupakan studi global pertama tentang hilangnya nyawa terkait dengan jam kerja lebih panjang, mengungkapkan 745.000 orang meninggal karena penyakit jantung dan stroke.
Hal itu diketahui ada kaitannya dengan jam kerja yang panjang pada tahun 2016 lalu. Angka-angka tersebut terus saja menanjak hampir 30 persen sejak tahun 2000 silam.
Maria Neira, Direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim dan Kesehatan WHO, seperti yang kutip dari Bisnis.com, 17 Mei 2021 bahaw bekerja 55 jam atau lebih per pekan adalah bahaya kesehatan yang serius.
Karena itu, WHO menginginkan ada semacam promosi untuk lebih banyak tindakan, dan lebih banyak perlindungan terhadap keselamatan pekerja.
Studi tersebut dihasilkan bersama oleh WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional, yang menunjukkan bahwa laki-laki paruh baya atau lebih menjadi korban terbesar, yakni sebanyak 72 persen.