Belajar dari Strategi Amerika Serikat Mengantisipasi Limbah Pangan
Klikhijau.com – Limbah pangan yang bersumber dari sisa-sisa makanan memang jumlahnya paling besar saat ini. Sejumlah negara termasuk Indonesia mengeluhkan besarnya limbah pangan yang bisa mencapai di...
Klikhijau.com – Limbah pangan yang bersumber dari sisa-sisa makanan memang jumlahnya paling besar saat ini. Sejumlah negara termasuk Indonesia mengeluhkan besarnya limbah pangan yang bisa mencapai di atas 50 persen.
Tak hanya dari segi komposisi sampah rumah tangga yang dominan sampah organik, sampah jenis ini juga belum sepenuhnya terkelola baik. Umumnya hanya dibuang ke TPA sehingga menjadi beban lingkungan. Padahal, sampah organik diketahui juga berkontribusi terhadap gas rumah kaca.
Pemerintah Amerika serikat sedang serius memikirkan penanganan limbah makanan dengan membuat semacam strategi kebijakan.
Jim Giles, Analisis Pangan dan Karbon di Greenbiz, menuturkan, ada sejumlah manfaat bisa didapat dari strategi kebijakan penanganan limbah makanan. Diantaranya penghematan biaya, menekan angka kelaparan dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Menariknya, rencana kebijakan ini hanya dijabarkan dalam dokumen tipis yakni delapan halaman. Meski terlihat sederhana, namun dokumen kebijakan ini dinilai akan berdampak positif bagi Amerika.
Beberapa pihak yang terlibat dalam rencana kebijakan ini antara lain ReFED, lembaga nonprofit dalam bidang limbah makanan, WWF, Dewan Ketahanan Sumberdaya Alam, dan Klinik Kebijakan Hukum Pangan dari Universitas Harvard.
Berikut poin-poin menarik dari kebijakan tersebut yang mungkin saja dapat direplikasi di tempat lain, termasuk di Indonesia.
[irp]
-
Menjauhkan limbah organik dari TPA dan insinerator
-
Memperluas donasi pangan dan insentif
-
Mengatur ulang label kadaluarsa makanan