Bangkitkan Persuteraan Alam dengan Pengembangan Telur Ulat Sutera
Klikhijau.com - Rendahnya produksi kokon per satuan luas (25 kg per 1 box telur) membuat penghasilan yang didapatkan belum optimal. Hal ini menjadi tantangan utama dalam usaha hulu persuteraan alam di...
Klikhijau.com - Rendahnya produksi kokon per satuan luas (25 kg per 1 box telur) membuat penghasilan yang didapatkan belum optimal. Hal ini menjadi tantangan utama dalam usaha hulu persuteraan alam di Indonesia.
Selain itu, kualitas kokon yang dihasilkan banyak petani belum dapat memenuhi kriteria kokon sebagaimana yang diinginkan oleh pengrajin benang sutera. Ini menyebabkan impor benang sutera alam masih sangat tinggi di Indonesia.
Karena itu, Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK ikut berperan dalam persuteraan alam di Indonesia dengan menerapkan Ulat Sutera Unggul.
Inovasi ini diberi nama PS 01 dan BS 09, serta tanaman murbei unggul SULI 01 sebagai pakan ulat sutera.
[irp]
Kepala BLI Agus Justianto menyampaikan, sejak diluncurkannya tahun 2013, telah dilakukan berbagai aplikasi di lapangan.
Keberhasilan inovasi tersebut, perlu disebarluaskan agar dapat direplikasi di tempat-tempat lain dan ditingkatkan skalanya secara luas.
BLI bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL), melakukan transfer teknologi pengembangan telur ulat sutera dan murbei hibrida ini kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Bina Mandiri Sukabumi, Jawa Barat.
KUPS adalah pemegang Izin atau Hak Perhutanan Sosial yang akan telah melakukan usaha. Atau dapat dikatakan sebagai usaha rintisan berbasis masyarakat di dalam dan sekitar hutan. Salah satu KUPS adalah KUPS Persuteraan Alam.