Bagaimana Bisa Kopi Melindungi Gorila di Uganda dari Kepunahan?

Klikhijau.com - Sejak usia delapan belas tahun, Robert Byarugaba telah berburu di hutan Bwindi Impenetrable di Uganda. Ia berburu bersama ayahnya. Kini usia Byarugaba telah memasuki angka 45 tahun....

Bagaimana Bisa Kopi Melindungi Gorila di Uganda dari Kepunahan?
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Sejak usia delapan belas tahun, Robert Byarugaba telah berburu di hutan Bwindi Impenetrable di Uganda. Ia berburu bersama ayahnya.

Kini usia Byarugaba telah memasuki angka 45 tahun. Byarugaba dan ayahnya bukanlah satu-satunya masyarakat setempat yang menggantungkan mata pencahariannya dengan berburu.

Berburu bagi masyarakat, 'dulu' adalah mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhannya. Hutan bagi masyarakat setempat adalah kehidupan. Dari hutanlah mereka memenuhi kebutuhannya untuk bernapas lebih lama, untuk menyiapkan generasi penerus mereka.

Apalagi Uganda adalah rumah bagi hampir setengah dari 1.000 gorila gunung yang diperkirakan hidup di dunia. Sayangnya, pada tahun 1991, populasi primata turun menjadi sekitar 300 hewan karena perburuan.

Untuk melindungi gorila gunung, pemerintah Uganda menjadikan Bwindi sebagai taman nasional. Itu berarti peningkatan perlindungan dan regulasi akses ke taman tak lagi bebas. Tetapi, banyak pemburu terus berburu semua karena mata pencaharian mereka bergantung padanya.

Para pemburu itu menyisir hutan untuk mencari babi hutan, kijang, kambing, dan kadang-kadang gorila. Kera besar mungkin dibunuh untuk memberi makan keluarga setempat, atau daging dan bagian tubuh mereka dapat memperoleh jumlah besar di pasar untuk daging semak atau obat tradisional.

Karena Gorilla Conservation Coffee

Namun, sejak lima tahun lalu banyak masyarakat, termasuk Byarugaba, telah berhenti berburu. Ia kini fokus bertani kopi. Hanya saja, awal-awalnya ia tak tahu harus menjual ke mana kopi-kopi yang dipanennya. Ia tak tahu harus memenuhi kebutuhan keluarganya dari mana.

Lalu semuanya berubah sejak 2017 berkat kehadiran karya Gorilla Conservation Coffee. Byarugaba mengatakan dia sekarang mencari nafkah yang dapat diandalkan dari perkebunan kopinya.

Perusahaan sosial itu menyarankan petani kopi untuk menanam dan mereka membeli tanaman mereka, sehingga mereka tidak perlu menggunakan penjarahan hutan, semisal berburu.

Perubahan itu diawali oleh seorang perempuan bernama Gladys Kalema-Zikusoka. Ia seorang dokter hewan margasatwa, pertama kali datang ke Bwindi pada tahun 1994 dan dikejutkan oleh penduduk desa yang miskin di taman nasional.

Ia mkemudian berinisatif mendirikan LSM Konservasi Melalui Kesehatan Masyarakat (CTPH) untuk mengatasi penularan penyakit antara manusia dan satwa liar. Melacak gorila melalui hutan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2