Klikhijau.com - Bayangkan ini: bumi menggigil. Ia berkeringat lewat hujan yang derasnya seperti dendam. Jalanan tergenang, selokan menjerit, dan di dalam grup WhatsApp keluarga, kita sibuk kirim video...
Klikhijau.com - Bayangkan ini: bumi menggigil. Ia berkeringat lewat
hujan yang derasnya seperti dendam. Jalanan tergenang, selokan menjerit, dan di dalam grup WhatsApp keluarga, kita sibuk kirim
video buaya yang nyasar ke perumahan. Histeria dan hiburan jadi satu. Sementara itu, di Instagram, seorang kepala daerah berdiri di depan seni instalasi dari
sampah. Ada tulisan: “283 Ton Sampah per Hari!”. Bangga. Pose. Postingan.
Suatu hari, hujan turun deras. Seorang bapak menyalahkan pemerintah, ibunya menyalahkan karma, dan anaknya bertanya: “Kenapa WiFi jadi lemot?” Hujan yang mestinya romantis—seperti di film-film Korea—di negeri ini malah identik dengan trauma: jemuran basah, motor mogok, dan notifikasi "akses jalan ditutup karena
banjir".
Tapi tunggu dulu. Mari kita mundur selangkah. Atau dua. Atau seribu langkah ke belakang, ke tempat yang jauh lebih dalam daripada selokan mampet: ideologi kita yang bolong. Krisis lingkungan bukan soal hujan yang keterlaluan, tapi soal pikiran yang keterlaluan malasnya. Dan ya, akar masalahnya sederhana, bahkan konyol: kita malas membaca.
Bukan cuma buku. Bukan soal literasi ala gerakan nasional yang menegur anak-anak sambil menyodorkan novel 500 halaman. Ini tentang kemampuan paling purba: membaca dunia. Membaca peringatan di label
plastik, membaca pola cuaca, membaca perubahan aroma udara, membaca keresahan yang sudah jelas di depan mata.
[irp]
Ironisnya, kita hidup di zaman ketika informasi berlarian lebih cepat dari logika. Kita lihat link berjudul “Kebakaran Hutan Mengancam Ekosistem Asia Tenggara” dan... kita skip. Kita baca judulnya saja, lalu lanjut komentar, “Yah, pemerintah ngapain aja sih?” Tanpa tahu, bahkan untuk memahami akar
kebakaran, kita perlu tahu siapa yang menanam api—dan siapa yang pura-pura jual pemadam.
Dalam The Uninhabitable Earth (David Wallace-Wells, 2019), disebutkan bahwa krisis iklim bukan datang sebagai badai mendadak, tapi sebagai kabut yang perlahan-lahan mencekik. Tapi kabut itu tak terlihat jika mata kita hanya menatap layar—bukan menembusnya.
Dalam pandangan Hannah Arendt, kejahatan terbesar manusia modern adalah banalitas, yaitu keengganan berpikir. Dalam kasus kita, banalitas itu berbentuk "malas nge-klik". Karena berpikir itu berat. Karena tanya itu menyusahkan. Dan karena membaca berarti harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak lucu.
[irp]
Padahal, kenyataannya: laut naik, suhu naik, harga sayur naik—tapi kesadaran tetap datar. Seperti grafik ekonomi Indonesia pasca krisis, kita terlalu sibuk berharap naik daun sambil berdiri di lahan tandus. Setiap langit kelabu, kita bilang "kebetulan aja". Padahal, seperti kata ilmuwan lingkungan Johan Rockström (2009), kita telah melampaui beberapa planetary boundaries—batas aman biosfer yang kita injak tiap hari, sambil ngopi.
Beginilah cara kita membaca hari ini—dengan jempol, bukan dengan nalar.
Padahal,
krisis lingkungan yang makin menggila ini tak bisa lagi ditangani dengan gimmick semacam itu. Ia bukan soal curah hujan yang tinggi, tapi soal nalar yang rendah. Banjir bukan semata karena cuaca, tapi karena kita tak mau menyelami sebab-musababnya. Tak mau bertanya, apalagi membaca.
Ya, membaca.
[irp]
Bukan cuma buku. Tapi membaca dalam arti paling sederhana dan penting: membaca keadaan. Membaca pola. Membaca sinyal. Membaca bahwa jika pohon ditebang dan air tanah dikeruk tanpa henti, maka bumi akan murka bukan lewat amarah, tapi lewat demam yang sistemik. Membaca bahwa tumpukan sampah bukanlah monumen prestasi, tapi tanda tanya besar yang belum dijawab.
Sayangnya, kita hidup di era di mana semua dibaca kecuali makna. Tautan artikel tentang suhu global yang melonjak hanya dibaca judulnya. Laporan tentang degradasi tanah dikomentari, "Ngeri ya," lalu di-skip demi video prank. Ilmuwan bisa berteriak lewat ratusan jurnal peer-reviewed—tapi kita lebih percaya suara YouTuber yang mukbang sambil bahas teori konspirasi.
Menurut IPCC Sixth Assessment Report, dunia kini berada di ambang bencana ekologis yang tak bisa dibalik. Tapi kita terlalu sibuk “membaca” tren TikTok dan filter baru Instagram. Sementara aktivis lapangan kelelahan menjelaskan siklus air ke publik yang pikirannya masih menduga hujan deras adalah hasil HAARP dan doa tetangga sebelah.
Bahkan “data” pun kini jadi ornamen. Seperti kepala daerah tadi: menyulap angka tonase sampah jadi backdrop selfie. Tidak ada rasa bersalah, apalagi krisis. Yang ada hanya estetika kesungguhan palsu—data dipajang, masalah dibiarkan. Mungkin menurut mereka, jika masalah tidak diselesaikan, cukup dipublikasikan. Dan itu sudah cukup meletakkannya dalam sejarah sebagai pemimpin yang peduli!
[irp]
Krisis ideologi ini bukan baru. Paulo Freire pernah bilang: “Membaca dunia mendahului membaca kata-kata.” Tapi kita hari ini justru kebalikannya. Kita membaca kata-kata—tanpa paham apa dunia sedang teriak.
Tak heran jika kemudian bumi makin tidak sabar. Laut naik, suhu naik, harga naik—yang tak naik cuma kesadaran. Aktivis mencret idealisme, sebab setiap argumen dibalas stiker lucu. Politisi sakit gigi, bukan karena pikir keras soal solusi, tapi karena terlalu banyak senyum basa-basi di depan kamera.
Dan di tengah semua itu, kita tetap malas membaca. Malas membuka. Malas bertanya. Padahal, krisis besar dalam sejarah manusia selalu diawali oleh keengganan memahami tanda. Dan jika kita gagal membaca dunia hari ini, besok kita mungkin harus belajar membaca batu nisan peradaban sendiri.
Tapi belum terlambat. Tak perlu jadi filsuf atau ekolog. Cukup mulai dari hal sederhana: klik tautan. Baca utuh. Bertanya. Memahami. Karena mungkin, di satu paragraf yang kita baca hari ini—tersimpan percikan akal sehat yang bisa menyelamatkan esok.(*)
[irp]