Apa Itu COP26? Apa Kaitannya dengan Isu Perubahan Iklim?

Klikhijau.com – Beberapa hari terakhir, pemberitaan mengenai pertemuan internasional bernama COP26 sangat ramai jadi isu media. Di balik ini, banyak pula yang bertanya-tanya perihal COP26 dan apa hubu...

Apa Itu COP26? Apa Kaitannya dengan Isu Perubahan Iklim?
Bacakan Artikel

Diantaranya Protokol Kyoto pada 1997 yang menetapkan batas emisi untuk negara-negara maju yang harus dicapai pada 2012. Selain itu, ada Perjanjian Paris yang diadopsi pada 2015.

Dalam Perjanjian Paris, negara di dunia sepakat membatasi pemanasan global tidak melebihi 2 derajat Celsius, idealnya 1,5 derajat Celsius, serta meningkatkan pendanaan aksi iklim.

Di bawah Perjanjian Paris, negara-negara berkomitmen untuk memajukan rencana nasional yang menetapkan berapa banyak mereka akan mengurangi emisi mereka yang dinamai Nationally Determined Contributions, atau 'NDCs'.

Dalam COP26, delegasi juga bertujuan menyelesaikan “Paris Rulebook” atau aturan yang diperlukan untuk mengimplementasikan Perjanjian Paris.

Kali ini, mereka perlu menyepakati kerangka waktu umum untuk frekuensi revisi dan pemantauan komitmen iklim mereka. Dan pada COP26 kali ini merupakan kesempatan penting untuk mewujudkan aturan-aturan guna mencapai Perjanjian Paris.

Secara rinci, tujaun COP26 ini antara lain: (1) mendesak pada semua negara 2021 untuk menyerahkan tujuan jangka panjang baru mereka mengenai ambisi untuk mengatasi darurat iklim global; (2) Menyelesaikan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan oleh COP 25, menetapkan aturan untuk pasar karbon antar negara; (3) Menegaskan implementasi Perjanjian Paris 2015 akan menjadi pendorong utama aksi iklim internasional.

Yang belum tuntas di COP sebelumnya

Negara-negara kaya berkomitmen pada COP15, KTT iklim yang diadakan di Kopenhagen pada tahun 2009, untuk menyediakan setidaknya USD100 miliar setiap tahun dalam dukungan keuangan kepada negara-negara yang paling terpukul oleh darurat iklim.

Janji ini seharusnya telah dipenuhi pada tahun 2020 tetapi pemerintah kaya belum memenuhi janji USD100 miliar.  Negosiator di COP26 harus menetapkan bagaimana komitmen USD100 miliar dipenuhi dan dilampaui di masa depan.

Pendanaan iklim juga harus berbentuk hibah, bukan pinjaman, untuk menghindari memburuknya krisis utang yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Darurat perubahan iklim

Isu perubahan iklim telah menjelma sebagai darurat global yang mengancam banyak jiwa dalam tiga dekade terakhir. Walau komitmen negara-negara terlihat menguat menjelang COP26, beberapa peneliti memprediksi kenaikan suhu global akan naik 2,7 derajat Celsius pada abad ini. Ini tentu menjadi situasi mengerikan sepanjang usia bumi.

Kenaikan suhu sebesar itu jelas akan memicu terjadinya kerusakan super masif di muka bumi dan memantik terjadinya banyak bencana alam.

Sekjen PBB Antonio Guterres dengan blak-blakan mengatakan sebagai bencana iklim, yang sudah dirasakan hingga tingkat yang mematikan di bagian paling rentan di dunia. Jutaan orang sudah mengungsi bahkan terbunuh oleh bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim.

Bagi Guterres, dan ratusan ilmuwan di Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), ambang batas 1,5 derajat Celsius adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan lebih parah di muka bumi.

Jam terus berdetak dan untuk membatasi kenaikan, dunia perlu mengurangi separuh emisi gas rumah kaca dalam delapan tahun ke depan. Inilah misi terbesar para pemimpin yang menghadiri COP26 tahun ini termasuk upaya menghapus batu bara secara bertahap demi impian nol emisi.

Semoga COP26 melahirkan upaya yang lebih serius mengatas ancaman krisis iklim demi kehidupan di masa datang!

*Sumber:

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2