Anak Muda Makassar Mulai Cemas dengan Dampak Krisis Iklim, Apa Aksimu?
Klikhijau.com – Anak-anak muda di Makassar mulai mencemaskan betapa krisis iklim sedang di depan mata dan semakin nyata. Banjir yang melanda Makassar dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan pada awal...
Klikhijau.com – Anak-anak muda di Makassar mulai mencemaskan betapa krisis iklim sedang di depan mata dan semakin nyata. Banjir yang melanda Makassar dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan pada awal Desember tahun ini bagai alarm pengingat.
Kesadaran akan hal ini menguat pada diskusi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Perguruan Tinggi Universitas Fajar Makassar di Café Ribo.ko, Jumat (17/12).
Hadir sebagai pemantik diskusi antara lain Anis Kurniawan, pegiat isu lingkungan dan juga Direktur Klikhijau.com, Irwan AR seorang pegiat alam bebas di HPPA Gurilla Indonesia dan Muhammad Riszky dari WALHI Sulsel.
Dipandu oleh Arman Jaya (Ketua Bidang PTKP HMI Koperti Fajar), diskusi ini berjalan menarik dengan setumpuk ide-ide kritis.
Muhammad Riszky dengan terang memaparkan sejumlah fakta nyata bagaimana problem lingkungan masih jadi sengkarut di kota Makassar. Antara lain, kata Riszky, tata kelola sampah yang buruk dan berimbas pada adanya ancaman polusi sampah di perairan.
“Kita belum memiliki tata kelola sampah yang baik. Lihat saja misalnya TPA Antang yang masih menggunakan skema open dumping, sampah ditumpuk begitu saja. Hal ini tentu berkontribusi pada pelepasan emisi dan memicu gas rumah kaca,” jelas Riszky.
[irp]
Pada saat yang sama, tambah Riszky, partisipasi warga dalam mengelola sampah di Makassar belum optimal. Lebih separuh dari sampah yang dihasilkan warga Makassar terbuang bebas di TPA Antang, dibakar dan beberapa lagi terbuang ke laut.
“Ini masalah serius, karena sampah merupakan ancaman nyata saat ini. Banjir yang terjadi, diantaranya juga karena sampah yang belum terkelola maksimal,” jelasnya.
Selain masalah sampah, Riszky juga menyorot minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Makassar. Kabarnya, RTH di Makassar semakin berkurang dan tidak memenuhi prasyarat sebuah kota hijau.
“RTH kita bahkan mengalami penurunan setiap waktu. Kota Makassar sepertinya semakin disesaki gedung-gedung tanpa mempertimbangkan tata ruang yang ramah lingkungan,” jelasnya.
Kecemasan akan krisis iklim diterangkan Irwan AR dengan sejejer peristiwa-peristiwa tak biasa di Kota Makassar. Ia menyorot bagaimana kota ini dibangun dengan tidak ramah lingkungan. Antara lain semakin punahnya area resapan air akibat pembangunan infrastruktur dan perumahan.
“Dampak krisis iklim pantas kita cemaskan, sebab dampaknya mulai nyata dan terasa. Bisa dibayangkan dalam beberapa tahun ke depan, bumi sepertinya akan kiamat lebih cepat karena krisis iklim,” ungkapnya.
[irp]
Irwan AR mencontohkan bagaimana banjir di Makassar belum lama ini yang katanya hanya ‘genangan’. Faktanya, kata Irwan AR, air yang meluap di kota ini sepertinya tak bisa lagi tertampung di daratan sehingga membanjiri rumah-rumah dan jalanan.
“Kerusakan yang terjadi di alam sudah pasti ulah manusia. Karenanya, bencana alam dan fenomena la nina yang berdampak luas pada kehidupan manusia di bumi harusnya menjadi alarm agar kita semua semakin peduli pada bumi,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Klikhijau, Anis Kurniawan, menyoal masih minimnya perhatian publik terhadap isu-isu lingkungan. Padahal, menurutnya, masalah lingkungan adalah hal paling fundamental dalam kehidupan.
“Dalam pemberitaan media misalnya, isu lingkungan belum jadi satu tren wacana dominan. Jadi, pemberitaan mengenai lingkungan hanya merebak massif saat ada bencana seperti banjir. Tulisan-tulisan yang fokusnya pada membangun awareness dan literasi lingkungan sangatlah minim,” jelasnya.
[irp]